TA’LIM DWIMINGGUAN KOMMA (UMUM)

27 02 2009

Setelah menjaring aspirasi dan bermusyawarah dengan jama’ah KOMMA, akhirnya ta’lim rutin dwimingguan dibuka untuk umum; ikhwan dan akhwat. Namun, ta’lim rutin lainnya khusus untuk ikhwan akan tetap dilaksanakan tiap malam Ahad.

Adapun ta’lim rutin dwimingguan akan dimulai pada Ahad 1 Maret 2009, pukul 09.00 s.d. 11.00 WIB.

Untuk konfirmasi kehadiran dan kegiatan, hubungi 085694261297.

Iklan




Mencari 365 Sahabat Karib

27 02 2009

Oleh Kang Taqi

Pada tulisan sebelumnya Saya sempat menyinggung masalah rejeki berhubungan dengan saudara atau teman. Saat itu Saya menjanjikan sekuelnya. Inilah sekuelitu.

Sebagai makhluk Tuhan, kita selalu berharap pemberian dari Allah Ta’ala. Namun rejeki pun terkadang tak berwujud sebagaimana harapan kita. Rejeki dalam paradigma kita adalah berwujud materi sejenis uang atau sejenisnya. Padahal itu kurang tepat. Kala kita meminta rejeki, kita langsung mematoknya dengan harta berlipat, mobil mengkilat, dan rumah bertingkat. Maka saat Allah tidak memenuhi keinginan itu, kita sakit hati.

Saudaraku, ingatlah, Allah tidak selalu memberikan apa yang kita minta. Sebaliknya, Allah selalu menganugerahkan apa yang terbaik untuk kita dan untuk Allah. Janganlah egois, karena kita hidup bersama Allah.

Wah, Saya jadi lupa menyinggung masalah judul tulisan ini. Tapi, beberapa alenia di atas hanya intro untuk masuk ke bahasan judul ini.

Rejeki seperti disebut di atas, tidak selamanya tepat. Kita sering berharap ada uang jatuh  dari langit. Makanan yang datang dari surga. Atau, bidadari cantik berenang di laut. Rejeki jangan dibayangkan uang. Mungkin saja ketika kita berdoa meminta uang untuk makan, tiba-tiba ada teman baik yang menawari makan siang di sebuah restoran mewah. Janganlah terlalu berharap mendapatkan uang banyak, namun berharaplah Allah menganugerahi kita  365 teman.

Andaikata kita punya 365 teman yang baik, pengertian, dan berbudi baik, kita tidak perlu bersusah payah memikirkan makan siang. Cobalah Anda bersilaturrahmi kepada satu orang untuk setiap harinya. Karena ia sahabat karib, mungkin makanan dan minuman alakadarnya pun disajikannya untuk kita sebagai sebuah penghormatan. Apalagi, jika ia ingat dengan petuah kanjeng Nabi, “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, maka muliakanlah tamunya,” niscaya teman karib itu akan lebih memuliakan kita.

Oleh karena itu, kita tidak perlu banyak mengharap rejeki semisal uang. Biarkanlah Allah mengatur rejeki kita menurut kehendakNya. Yakinlah, rejeki yang dianugerahkanNya pada kita merupakan keputusan terbaik. Ayolah saudaraku, perbanyaklah saudara seagama, setanah air, sedaerah, sebangsa, dan sekandung. Dengan banyak teman, dipastikan kita akan mendapat bantuan disaat kita membutuhkannya. Namun, kita tidak akan mendapat sahabat karib tanpa perangai kita yang baik. Untuk itu, benahi diri sendiri dengan perangai mulia dan tebarkan amal shaleh pada setiap insan Allah.

Saat ini banyak media penjalin silaturrahmi. Ada facebook, friendster, berbagai milis dan forum diskusi, Yahoo Massanger, MIRC, dan forum lainnya. Cobalah dalam sehari kita memiliki satu teman. Siapa pun dia, sapalah penuh keakraban. Islam adalah agama damai nan santun, maka tebarkanlah perdamaian ke penjuru dunia.





Shalat Tepat Waktu dan Urusan Rejeki

17 02 2009

Oleh Kang Taqi

Saya merasa berterima kasih tak terhingga kepada para pengunjung setia web/blog KOMMA. Salam ta’zhim kami tujukan kepada salah satu pengunjung yang sering mengomentari beberapa tulisan. Di antara k0mentar tersebut ada yang memohon KOMMA melanjutkan pembahasan shalat laksana bisnis. Berikut ini tulisan yang berhubungan antara shalat dan rejeki. Semoga menggugah.

Kali ini Saya ingin menyampaikan shalat dan urusan rejeki. Eits, jangan anggap ini biasa dan lumrah. Jangan anggap shalat untuk meminta rejeki semata, tapi silakan baca tulisan ini hingga akhir. Setelah itu, Anda boleh komentar. Kalau jelek, ya katakan saja jelek. Namun bukan itu tujuannya. Saya hanya ingin Anda baca ini. InsyaaLlah bermanfaat.

Kalau shalat yang berarti do’a, itu sudah biasa. Tapi ini ada hal luar biasa. Dalam shalat memang terdapat banyak do’a, tidak terkecuali dengan do’a untuk memohon rejeki. Namun, bagaimana mau diijabah bila shalatnya tidak tepat waktu.

Saya teringat dengan Ustadz HM Yusuf Mansur, yang bercerita tentang seorang satpam di salah satu stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU). Satpam berkeluh kesah kepada ustadz mengenai pekerjaannya yang hanya menjadi satpam terus sejak enam tahun ia bekerja. Satpam meminta amalan untuk diluaskan rejeki, tapi ustadz tidak langsung menurutinya.

Ustadz mengira, pasti ada masalah dalam diri satpam yang mengakibatkan pintu rejekinya tersumbat. Ustadz pun bertanya mengenai shalatnya. Kebetulan saat itu pukul 17.00 WIB, Ustadz kondang itu bertanya, “Sudah shalat ‘Ashar?”. Itu pertanyaan pembuka dari ustadz untuk mengidentifikasi masalah satpam.

“Baru saja (shalat), lima menit yang lalu,” jawab satpam. “MasyaaLlah,” kata ustadz sambil menggelengkan kepala. “Bagaimana mau dapat rejeki tepat waktu bila shalat untuk meminta kepada Allah saja telat dua jam. Coba bayangkan, bila sehari ada lima waktu, dan kelima waktu itu telat dua jam, berarti sehari telat shalat selama 10 jam. Bila dikalikan ke dalam bilangan bulan, maka hasilnya 300 jam. Bila dikalikan ke dalam tahun, berarti setahun telat shalat selama 3600 jam,” jelas ustadz laksana berceramah di televisi.

Wah, mendengar penjelasan ustadz pasti kita tercengang. Pertanyaan selanjutnya, sudah berapa lama satpam itu telat shalat. Andaikata satpam itu sering telat shalat selama 10 tahun, berarti dia telat shalat selama36000 jam. 36000 jam bila dibagi 24 jam (sehari), sama dengan 1500 hari. Bila digenapkan ke dalam bilangan tahun, sama dengan lebih kurang empat tahun. Berarti satpam itu telat shalat dalam kurun waktu 10 tahun itu selama 4 tahun. MasyaaLlah!

Apa maksudnya? Ini pembahasan pentingnya. Anaikan satpam tadi shalat tepat waktu setiap waktu shalat, ia hanya menjadi satpam lebih kurang dua tahun. Tapi, karena dia telat meminta kepada Allah, dalam artian shalat, maka ia pun telat mendapatkan rejeki dari Allah. Alhasil, selama enam tahun ia harus ‘menderita’ sebagai satpam, tanpa ada peningkatan dan kenaikan jabatan.

Kepada siapa pun yang biasa menunda pelaksanaan waktu shalat, segeralah menghilangkan kebiasaan buruk itu, karena bisa jadi saat itu Allah akan mengqabulkan permintaan kita.

Saya sangat senang terhadap beberapa sekolah Islam yang membiasakan shalat tepat waktu untuk shalat Zhuhur. Semoga program ini berjalan istiqamah. Amiin.

Wallahu A’lam.





Benarkah kata Mosque berasal dari kata Mosquito?

17 02 2009

Oleh Kang Taqi

Di awal 2008 silam, Saya berbincang dengan salah satu siswa MA di Jakarta. Perbincangan itu berawal gara-gara tulisan Mosque di papan penunjuk arah di salah satu pondok modern di Tangerang. Sebut saja lelaki yang berbincang dengan Saya itu, Ahmad. Saat melihat tulisan yang Saya maksud tadi, tiba-tiba Ahmad menggerutu sembari mengeritik. “Huh, salah nih! Masjid kok ditulis mosque. Kalau masjid, ya tulis saja; masjid. Jangan mosque!”. Lebih kruang seperti itu gerutunya.

Setelah menyapa dan berkenalan dengannya, Saya tahu kalau dia berasal dari MA terbaik di Jakarta. Bahasa Inggrisnya unggul, matematikanya jago, dan ekstrakurikulernya pun ungggul. Tapi, itu sih kata dia.

Dengan sikap sok tahunya, dia menganggap tulisan Mosque yang sering dipakai untuk menerjemahkan kata ‘Masjid’ ke dalam bahasa Inggris, sebagai kesalahan. Ahmad mengutip salah satu artikel yang pernah ia baca. Kata dia, mosque itu berasal dari bahasa Spanyol, yakni ‘mosquito’, yang berarti nyamuk. Ia menambahkan, kata mosque ini berawal dari peristiwa Perang Salib. Kala itu, Raja Ferdinand yang beragama Nasrani hendak menyerang orang-orang Islam. Ia berkata kepada prajuritnya bahwa musuh yang akan dihadapinya ialah laksana nyamuk. “There are like mosquitoes”, mungkin demikian kira-kira perkataan Raja Ferdinand.

Kenapa umat Islam disebut laksana nyamuk?, karena umat Islam, kata Ferdinand, sangat banyak jumlahnya, dan tempat berkumpulnya orang-orang Islam ialah di masjid. Maka, kata yang pantas disandang umat Islam untuk tempat berkumpulnya ialah ‘mosque’. Inilah pendapat Ahmad tentang mosque yang berasal dari mosquito.

Bila orang awam mendengar itu pasti akan terpengaruh, seperti halnya Anda membaca tulisan ini hanya sepotong. Namun setelah Saya konfirmasi ke beberapa ahli bahasa dan merujuk berbagai literatur sejarah, argumen Ahmad pun gugur: mosque bukan berasal dari kata mosquito.

Setelah ditelusuri, kata mosque dan mosquito itu terdapat pada buku The Complete Idiot’s Guide to Understanding Islam. Dan isi bukunya pun bukan sesuai dengan judulnya. Lihat situs: http://www.dailytimes.com.pk/default.asp?page=story_9-2-2003_pg3_7.

Untuk mengetahui makna kata mosque dan mosquito, kita harus menggunakan etimologi. Bila dirunut dari ilmu tersebut, tidak ada hubungan semantik antara kedua kata tersebut. Kata ‘mosqye’ (bahasa Inggris) yang berarti masjid, sudah muncul sejak tahun 1400. Bahkan, itu pun berasal dari bahasa Itali; ‘moschea’. Namun di sisi lain, kamus bahasa Inggris popular semacam Oxford’s New English Dictionary & Miriam-Webster’s News Internationa; Dictionary, melaporkan, penggunaan kata ‘mosqued’ ada sejak tahun 1902. Untuk lebih jelas, silakan cek listserv.linguistlist.org/cgi-bin/wa?A2=…arabic-l&P=1505.

Kepada Ahmad, dan beberapa pembaca yang masih menganggap ‘mosque’ (berbahasa Inggris) berasal dari kata ‘mosquito’ yang berarti nyamuk, merupakan kesalahan fatal. Mosque (berbahasa Inggris) yang berarti masjid, dalam bahasa Spanyol-nya ialah ‘mezquita’, bukan ‘mosquito’! Adapun ‘mosquito’ yang berarti nyamuk, dalam bahasa Spanyolnya adalah ‘mosca’.

Para pembaca budiman, Saya memang bukan ahli bahasa. Namun ketika seseorang menghadapi masalah kebahasaan, kita harus tanggap dan bertabayyun. Cari dan gali informasi sebenarnya, jangan asal dengar. Inilah yang pernah Saya sampaikan, beramal itu harus ilmiah. Tulisan ini tidak murni dari pemikiran sendiri, namun sehari Saya mendengar ucapan Ahmad, Saya pun berusaha memecahkan masalah itu. Mohon maaf tak terhingga atas kesalahan dan kekurangan tulisan ini. Wallahu A’lam.





Kejaiban Shalat Dluha

17 02 2009

Oleh Kang Taqi

Ada sebuah pemahaman di sebagian umat Islam tentang shalat Dluha, yaitu shalat Dluha untuk menarik rejeki. Pemahaman itu sebenarnya tidak salah. Tapi alangkah lebih baik kita mengungkapnya secara naqli dan ‘aqli. Tujuannya mudah saja, untuk memberikan pemahaman dan keyakinan kuat terhadap ibadah yang kita amalkan. Sebab, bila ibadah tanpa penuh keyakinan, tidak ada gunanya. Ingat, Allah berkata dalam hadits Qudsinya bahwa Dia sesuai dengan persangkaan hambaNya. Maka dari itu, kita ungkap bersama seputar keajaiban shalat Dluha.

Kata Dluha (dladl-ha[kecil]) berarti waktu matahari saat naik sepenggalan. Dalam Alquran, ALlah Ta’ala pernah bersumpah dengan kata “Adl-Dluha”. Tentu surat yang satu ini kita sering mendengar dan melantunkannya. Tapi, mengapa Allah bersumpah dengan kata “Adl-Dluha”, lantas apa kaitannya dengan shalat Dluha?

Para mufassir (ahli tafsir) menyatakan, bila Allah bersumpah dengan suatu benda maupun keadaan, berarti Allah sangat menaruh perhatian besar pada benda atau keadaan tersebut. Andaikata Allah bersumpah dengan kata “Al-‘ashr” yang berarti “waktu”, ini pertanda Allah menaruh perhatian terhadap waktu, dan kita harus memperhatikannya juga, yakni dengan menjaga waktu sebaik mungkin untuk hal-hal positif.

Sementara itu, bila Allah bersumpah dengan kata “Adl-Dluha” yang berarti waktu matahari naik sepenggalan, berarti Dia menaruh perhatian penting pada waktu itu. Secara logis, Saya berpendapat, waktu dluha, yakni antara pukul 7.00 s.d. 10.30 WIB, merupakan waktu sibuk bagi pengusaha, pekerja, pelajar, dan orang-orang yang beraktifitas lainnya. Saat itu, mereka sedang sibuk. Dan, Allah akan memperhatikan hamba-hambaNya yang memohon melalui shalat Dluha, di saat hamba-hamba lainnya sibuk dengan duniawinya.

Shalat Dluha bukan sekedar untuk memohon rejeki, tapi lebih dari itu kita bisa memohon kebutuhan lainnya. Kita bisa memohon diberikan kesabaran, dimudahkan dalam berusaha, diberikan keselamatan dalam perjalanan, diberkahi hidup kita, dihilangkan dari sifat-sifat buruk, dan lainnya. Shalat Dluha pun ibarat Shalat Tahajjud. Di saat orang lain terlelap tidur, tapi ada seorang hamba yang memohon melalui shalat Tahajjud. Maka, Allah akan memperhatikan permintaannya itu.

Tulisan ini merupakan lanjutan dari tulisan berjudul “Shakat Laksana Bisnis” dalam web ini. Shalat laksana bisnis merupakan tulisan yang membahas bahwa shalat itu bisa diibaratkan bisnis yang memerlukan modal dan mengharapkan untung. Shalat Dluha pun merupakan keuntungan dalam shalat, karena Shalat Dluha merupakan shalat sunnat yang lazim didirikan Rasulullah Saw.

Mengakhiri tulisan ini, Saya ingin menyimpulkan, shalat Dluha tidak sekedar untuk meminta rejeki, meskipun dalam do’anya ada pernyataan meminta rejeki. Tapi perlu diingat lagi, jangan membayangkan rejeki itu terbatas pada uang, karena dengan demikian kita sudah “mempersempit” rejeki tersebut. Mengenai rejeki, akan Saya bahas pada tulisan selanjutnya. InsyaaLlah. Semoga tulisan ini membuat pemahaman mendalam tentang shalat Dluha pada umumnya, dan pemahaman agama pada umumnya.

Wallohu a’lam bish-shawab.

–CP Kang Taqi 085694261297





Empat tahun KOMMA, Fokus ke Kajian Keislaman

11 01 2009

Oleh Dept. Pengembangan Jaringan Komunikasi [BangJarKom KOMMA]

Tidak terasa empat tahun sudah Komunitas Muslim Muda Alfikr [KOMMA] mewarnai pergerakan dan organisasi Islam di Bogor. Selama itu KOMMA sudah menelurkan banyak pemikiran dan kegiatan yang berarti bagi masyarakat. Di antara kegiatan itu ialah kajian rutin tiap malam Ahad.

“Kajian rutin tiap malam Ahad merupakan kegiatan pokok KOMMA yang harus dipertahankan,” tandas Direktur KOMMA, Darmawan, dalam sambutan Milad ke-4 KOMMA, 1 Januari 2009. Dia menambahkan, sebelum KOMMA menjadi lembaga dakwah yang menyebarkan para juru dakwah ke masyarakat, anggota dan pengurus KOMMA harus memiliki kedalaman pemahaman keagamaan dan umum yang luas. “Oleh karena itu, pengurus dan anggota KOMMA wajib mengikuti kajian ini.”

Senada dengan Direktur KOMMA, Sekjen KOMMA Muhammad Taqiyuddin menegaskan pernyataan Darmawan. Kang Taqi, demikian sekjen ini biasa dipanggil, menyatakan, jika pada tahun-tahun sebelumnya fokus ke kajian ushulul Fiqh dan hadits, tahun selanjutnya KOMMA akan memfokuskan ke kajian Alquran. “Mulai dari tajwid, tafsir, tahfizh, hingga kajian Alquran tentang pengetahuan,” jelas Kang Taqi.

Muharram 1430 Hijriah merupakan ulang tahun keempat bagi KOMMA. Seperti biasa, untuk memperingati hari bersejarah itu diisi dengan kegiatan tasyakuran, ta’lim akbar, santunan anak yatim, dan kunjungan ke beberapa ulama. Untuk peringatan milad tersebut diselenggarakan pada 4 Muharram 1430 Hijriah, bertepatan dengan 1 Januari 2009 M.

Pada lain kesempatan, KOMMA juga mendapatkan kesempatan mengisi talk show tentang KOMMA di Radio MARS 106 FM. Dalam rubrik ‘komunitasku’ itu, KOMMA diminta untuk memaparkan dan mengenalkan KOMMA kepada masyarakat. Alhamdulillah, tidak sedikit masyarakat yang menanggapi kehadiran KOMMA.

Semoga kehadiran KOMMA bisa mewarnai komunitas-komunitas yang ada, khususnya di bidang kajian ilmiah keislaman. Dan, semoga Allah Ta’ala meridlai langkah KOMMA.





Serangan Israel ke Gaza Sarat Muatan Politik

11 01 2009

Oleh Kang Taqi

Jum’at kedua di bulan Januari 2009 merupakan hari ke-14 serangan Israel ke Gaza. Tidak sedikit masyarakat internasional mengecam tindakan brutal dan terorisme Israel tersebut. Ada pengamat yang memandangnya sebagai masalah agama; ada yang melihatnya sebagai pencaplokan wilayah; ada yang menganggapnya sebagai pembalasan atas serangan HAMAS; dan adapula yang menilainya sebagai masalah politik dalam negeri Israel.

Dalam kapasitasnya sebagai pemerhati politik, penulis melihat serangan Israel ke Gaza merupakan sarat dengan muatan politik dalam negeri dan pertarungan citra antara Ehud Barak, Menteri Pertahanan Israel, yang juga menjabat sebagai ketua umum Partai Buruh; Menteri Luar Negeri Israel, Tzipora Malka “Tzipi” yang juga Ketua Umum Partai Kadima; Ketua Umum PartaiLikuid, Benjamin Netanyahu Apa hubungannya antara posisi partai, menteri, dan serangan ke Gaza?

Serangan Israel ke Gaza tentu akan membawa dampak bagi citra Israel dan pihak-pihak yang mendukungnya. Sebagai informasi, dua bulan lagi Israel akan menghadapi pemilihan umum. Tentunya partai-partai beserta fungsionarisnya akan bertarung citra dan popularitas. Dan, serangan Israel merupakan isu yang bisa diangkat oleh mereka.

Bila di Amerika Serikat (AS) sempat terjadi pertarungan citra dan popularitas antara Barrack Hussein Obama dengan John Mc Cain pada pemilu AS akhi tahun silam. Keduanya saat itu memanfaatkan isu serangan AS ke Irak. Obama mengecam serangan itu, sedangkan Mc Cain mendukungnya. Sepertinya, Mc Cain menyangka dengan dukungannya terhadap serangan ke Irak, sebagaimana kebijakan George W Bush, ia akan mendapatkan dukungan pula dari rakyat AS, namun anggapan itu berbalik 180 derajat. Rakyat AS ternyata tidak menghendaki peperangan ke Irak.

Bagi rakyat AS, serangan AS ke Irak merupakan perbuatan biadab. Namun, bagi Israe, mungkin serangan ke Gaza merupakan usaha untuk merebut kekuasaan dari Palestina. Oleh karena itu, serangan itu akan mendapatkan simpati dari rakyat Israel. Polling yang dilansir harian Israel, sebagaimana ditulis dalam Republika, Kamis, 8 Januari, pada awal Januarilalu, menyatakan 52 persen responden mendukung serangan udara kePalestina; 19 persen menghendaki militer Israel segera mengirim pasukan daratnya menyerang jalurGaza; dan 19 persen menghendaki pemerintah Israel sebaiknya maju ke meja perundingan untuk melakukan gencatan senjata.

Di atas dinyatakan, serangan ke Gaza didukung oleh kedua menteri. Keduanya merupakan dua partai yang melakukan koalisi untuk menghadang popularitas Ketua Umum Partai Likuid, Benjamin Netanyahu, yang juga pernah menjabat Perdana Menteri (PM) Israel. Survei pada 25 November 2008, lalu,Channel-1 melaporkan, bila Pemilu dilakukan saat itu, maka Partai Likuid akan memperoleh 37 kursi, Partai Buruh 7 kursi, Partai Kadima 25 kursi, dan Partai Shas 11 kursi. Melihat popularitaspartai yang dinahkodai Benjamin semakin meningkat, Ehud Barak mencoba menyainginya dengan membuat sensasi, yakni melakukan serangan Israel ke Gaza. Dan, etrnyata perkiraan Ehud Barak benar. Dengan serangan itu, popularitas Partai Buruk pun bisa menyaingi partai-partai lainnya.

Dari analisis ini, kita pun bisa menilai bagaimana sikap mayoritas rakyat Israel. Mereka menghendaki serangan tersebut. Para politisi yang ada pun memanfaatkan keadaan itu. Kita hanya berharap, di saat masyarakat internasionak semakin banyak yang mengecam serangan tersebut, maka rakyat Israel pun akan merasakan malu tak terhingga kepada masyarakat internasional. Dengan demikian, semogarakyat Israel pun akhirnya tidak menghendaki serangan tersebut dan Ehud Barak tidak memenangkan Pemilu. Karena, jika Ehud Barak memimpin Israel, tentu akan mengakibatkan dampak negatif bagi Palestina.

Saya mengajak kepada masyarakat dunia, untuk masalah serangan Israel ke Gaza, jangan dipusatkan kepada masalah agama semata, namun harus diarahkan kepada tindakan ketidakprikemanusiaan, karena dengan demikian pula masyarakat dunia akan turut mengecam. Selain itu, jangan hanya Obama yang pernah kita soroti dalam Pemilu AS, tapi Pemilu di Israel pun harus kita sosort. Sedikit sekali di antara kita yang mengetahui permasalahan ini. Bila Israel, dengan tindakan biadabnya itu senantiasa diperhatikan, maka tidak sedikit pun ia dapat bergerak untuk melakukan tindakan anarkis itu. [Kang Taqi]