Mencari 365 Sahabat Karib

27 02 2009

Oleh Kang Taqi

Pada tulisan sebelumnya Saya sempat menyinggung masalah rejeki berhubungan dengan saudara atau teman. Saat itu Saya menjanjikan sekuelnya. Inilah sekuelitu.

Sebagai makhluk Tuhan, kita selalu berharap pemberian dari Allah Ta’ala. Namun rejeki pun terkadang tak berwujud sebagaimana harapan kita. Rejeki dalam paradigma kita adalah berwujud materi sejenis uang atau sejenisnya. Padahal itu kurang tepat. Kala kita meminta rejeki, kita langsung mematoknya dengan harta berlipat, mobil mengkilat, dan rumah bertingkat. Maka saat Allah tidak memenuhi keinginan itu, kita sakit hati.

Saudaraku, ingatlah, Allah tidak selalu memberikan apa yang kita minta. Sebaliknya, Allah selalu menganugerahkan apa yang terbaik untuk kita dan untuk Allah. Janganlah egois, karena kita hidup bersama Allah.

Wah, Saya jadi lupa menyinggung masalah judul tulisan ini. Tapi, beberapa alenia di atas hanya intro untuk masuk ke bahasan judul ini.

Rejeki seperti disebut di atas, tidak selamanya tepat. Kita sering berharap ada uang jatuh  dari langit. Makanan yang datang dari surga. Atau, bidadari cantik berenang di laut. Rejeki jangan dibayangkan uang. Mungkin saja ketika kita berdoa meminta uang untuk makan, tiba-tiba ada teman baik yang menawari makan siang di sebuah restoran mewah. Janganlah terlalu berharap mendapatkan uang banyak, namun berharaplah Allah menganugerahi kita  365 teman.

Andaikata kita punya 365 teman yang baik, pengertian, dan berbudi baik, kita tidak perlu bersusah payah memikirkan makan siang. Cobalah Anda bersilaturrahmi kepada satu orang untuk setiap harinya. Karena ia sahabat karib, mungkin makanan dan minuman alakadarnya pun disajikannya untuk kita sebagai sebuah penghormatan. Apalagi, jika ia ingat dengan petuah kanjeng Nabi, “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, maka muliakanlah tamunya,” niscaya teman karib itu akan lebih memuliakan kita.

Oleh karena itu, kita tidak perlu banyak mengharap rejeki semisal uang. Biarkanlah Allah mengatur rejeki kita menurut kehendakNya. Yakinlah, rejeki yang dianugerahkanNya pada kita merupakan keputusan terbaik. Ayolah saudaraku, perbanyaklah saudara seagama, setanah air, sedaerah, sebangsa, dan sekandung. Dengan banyak teman, dipastikan kita akan mendapat bantuan disaat kita membutuhkannya. Namun, kita tidak akan mendapat sahabat karib tanpa perangai kita yang baik. Untuk itu, benahi diri sendiri dengan perangai mulia dan tebarkan amal shaleh pada setiap insan Allah.

Saat ini banyak media penjalin silaturrahmi. Ada facebook, friendster, berbagai milis dan forum diskusi, Yahoo Massanger, MIRC, dan forum lainnya. Cobalah dalam sehari kita memiliki satu teman. Siapa pun dia, sapalah penuh keakraban. Islam adalah agama damai nan santun, maka tebarkanlah perdamaian ke penjuru dunia.

Iklan




Serangan Israel ke Gaza Sarat Muatan Politik

11 01 2009

Oleh Kang Taqi

Jum’at kedua di bulan Januari 2009 merupakan hari ke-14 serangan Israel ke Gaza. Tidak sedikit masyarakat internasional mengecam tindakan brutal dan terorisme Israel tersebut. Ada pengamat yang memandangnya sebagai masalah agama; ada yang melihatnya sebagai pencaplokan wilayah; ada yang menganggapnya sebagai pembalasan atas serangan HAMAS; dan adapula yang menilainya sebagai masalah politik dalam negeri Israel.

Dalam kapasitasnya sebagai pemerhati politik, penulis melihat serangan Israel ke Gaza merupakan sarat dengan muatan politik dalam negeri dan pertarungan citra antara Ehud Barak, Menteri Pertahanan Israel, yang juga menjabat sebagai ketua umum Partai Buruh; Menteri Luar Negeri Israel, Tzipora Malka “Tzipi” yang juga Ketua Umum Partai Kadima; Ketua Umum PartaiLikuid, Benjamin Netanyahu Apa hubungannya antara posisi partai, menteri, dan serangan ke Gaza?

Serangan Israel ke Gaza tentu akan membawa dampak bagi citra Israel dan pihak-pihak yang mendukungnya. Sebagai informasi, dua bulan lagi Israel akan menghadapi pemilihan umum. Tentunya partai-partai beserta fungsionarisnya akan bertarung citra dan popularitas. Dan, serangan Israel merupakan isu yang bisa diangkat oleh mereka.

Bila di Amerika Serikat (AS) sempat terjadi pertarungan citra dan popularitas antara Barrack Hussein Obama dengan John Mc Cain pada pemilu AS akhi tahun silam. Keduanya saat itu memanfaatkan isu serangan AS ke Irak. Obama mengecam serangan itu, sedangkan Mc Cain mendukungnya. Sepertinya, Mc Cain menyangka dengan dukungannya terhadap serangan ke Irak, sebagaimana kebijakan George W Bush, ia akan mendapatkan dukungan pula dari rakyat AS, namun anggapan itu berbalik 180 derajat. Rakyat AS ternyata tidak menghendaki peperangan ke Irak.

Bagi rakyat AS, serangan AS ke Irak merupakan perbuatan biadab. Namun, bagi Israe, mungkin serangan ke Gaza merupakan usaha untuk merebut kekuasaan dari Palestina. Oleh karena itu, serangan itu akan mendapatkan simpati dari rakyat Israel. Polling yang dilansir harian Israel, sebagaimana ditulis dalam Republika, Kamis, 8 Januari, pada awal Januarilalu, menyatakan 52 persen responden mendukung serangan udara kePalestina; 19 persen menghendaki militer Israel segera mengirim pasukan daratnya menyerang jalurGaza; dan 19 persen menghendaki pemerintah Israel sebaiknya maju ke meja perundingan untuk melakukan gencatan senjata.

Di atas dinyatakan, serangan ke Gaza didukung oleh kedua menteri. Keduanya merupakan dua partai yang melakukan koalisi untuk menghadang popularitas Ketua Umum Partai Likuid, Benjamin Netanyahu, yang juga pernah menjabat Perdana Menteri (PM) Israel. Survei pada 25 November 2008, lalu,Channel-1 melaporkan, bila Pemilu dilakukan saat itu, maka Partai Likuid akan memperoleh 37 kursi, Partai Buruh 7 kursi, Partai Kadima 25 kursi, dan Partai Shas 11 kursi. Melihat popularitaspartai yang dinahkodai Benjamin semakin meningkat, Ehud Barak mencoba menyainginya dengan membuat sensasi, yakni melakukan serangan Israel ke Gaza. Dan, etrnyata perkiraan Ehud Barak benar. Dengan serangan itu, popularitas Partai Buruk pun bisa menyaingi partai-partai lainnya.

Dari analisis ini, kita pun bisa menilai bagaimana sikap mayoritas rakyat Israel. Mereka menghendaki serangan tersebut. Para politisi yang ada pun memanfaatkan keadaan itu. Kita hanya berharap, di saat masyarakat internasionak semakin banyak yang mengecam serangan tersebut, maka rakyat Israel pun akan merasakan malu tak terhingga kepada masyarakat internasional. Dengan demikian, semogarakyat Israel pun akhirnya tidak menghendaki serangan tersebut dan Ehud Barak tidak memenangkan Pemilu. Karena, jika Ehud Barak memimpin Israel, tentu akan mengakibatkan dampak negatif bagi Palestina.

Saya mengajak kepada masyarakat dunia, untuk masalah serangan Israel ke Gaza, jangan dipusatkan kepada masalah agama semata, namun harus diarahkan kepada tindakan ketidakprikemanusiaan, karena dengan demikian pula masyarakat dunia akan turut mengecam. Selain itu, jangan hanya Obama yang pernah kita soroti dalam Pemilu AS, tapi Pemilu di Israel pun harus kita sosort. Sedikit sekali di antara kita yang mengetahui permasalahan ini. Bila Israel, dengan tindakan biadabnya itu senantiasa diperhatikan, maka tidak sedikit pun ia dapat bergerak untuk melakukan tindakan anarkis itu. [Kang Taqi]





Shalat laksana bisnis

9 01 2009

Oleh Kang Taqi

Membaca judul di atas, kemungkinan di antara pembaca menyangka tulisan ini akan berbicara seputar bisnis yang akan dikaitkan dengan shalat. Mungkin pula ada yang beranggapan, tulisan ini akan mengarah kepada perilaku shalat yang dihubungkan dengan bisnis. Sebelum menebak-nebak isi tulisan ini, Saya akan memberikan sebuah analogi atau simulasi sederhana.

Seorang pedagang kelontong, misalnya, ketika ia berdagang tentunya ia mengharapkan untung. Bila ia bermodalkan Rp10 juta untuk semua usahanya, kemungkinan ia akan mengharapkan untungnya berkisar antara Rp1 juta s.d. Rp5 juta. Apabila uang yang kembali hanya Rp10 juta, berarti hanya kembali modal saja. Tidak ada untungnya. Apakah akan memuaskan pedagang tadi? Andaikata Anda berada di posisi pedagang, kemungkinan Anda merugi. Tidak ada untung yang dicapai, bahkan yang ada hanya ‘capek’.

Analogi di atas akan Saya pakai dalam praktek shalat. Dalam beribadah kita sering mengharap pahala. Itu pasti. Menjalankan perintah Allah, itu sebuah kewajiban, dan berbuah pahala besar. Hanya pertanyaannya, apakah cukup hanya dengan menjalankan kewajiban semata? Bahkan tidak sedikit di antara umat Islam yang mendirikan shalat hanya sekedar menggugurkan kewajiban? Inilah yang akan menjadi poin penting pembahasan tulisan ini.

Shalat Fardlu seperti Shubuh, Zhuhur, ‘Ashar, Magrib, dan ‘Isya; itu merupakan kewajiban. Dijalankan, ya memang wajib. Ditinggalkan, ya akan berdosa. Intinya, bila dalam urusan bisnis, shalat fardlu merupakan modal. Jadi, jika kita hanya mendirikan shalat fardlu semata, kita hanya memperoleh pahala ‘modal’. Kenapa disebut modal, karena kita hanya memperoleh pahala dari ibadah yang memang wajib. Ingat dengan urusan bisnis, kapital (SDA, finansial, SDM) itu penting. Tanpa kapital, sebuah usaha bisnis kemungkinan tidak akan berjalan. Bila dalam usaha bisnis hanya kembali modal saja, berarti tidak ada untungnya.

“Lantas, apa di mana untungnya?”, Anda pasti bertanya demikian. Shalat sunnat adalah untungnya. “Lha, kok bisa? Wajib kan lebih penting. Sunnah kan hanya anjuran!” salah seorang di antara Anda mungkin ada yang berkilah demikian.

Shalat wajib memang lebih utama, tapi itu memang kewajiban. Mau tidak mau, ya harus dijalankan. Tidak boleh ditinggalkan. Namun, di saat mendirikan ibadah wajib, Rasulullah Saw pun menganjurkan kita mengikuti sunnahnya. Dan, sunnah itulah merupakan keuntungan atau nilai plus-nya. Ibarat Anda berbisnis, Anda pun tidak hanya mendapatkan ‘balik modal’ dari ibadah wajib, tapi Anda akan mendapatkan untung, atau istilah lainnya ialah nilai ‘plus’.

Tulisan ini memang tidak terlalu sarat dengan referensi jelas, namun Saya berusaha merasionalisasikan perilaku shalat, agar setiap kita merasa termotivasi dengan apa yang kita lakukan. Saya melihat sebagian di antara kita masih ada yang ‘mendirikan’ shalat sekedar ‘melaksanakan’. Ingat, ‘melaksanakan’ dan ‘mendirikan’ itu berbeda. Dalam Alquran, perintah shalat menggunakan kata ‘iqamah’ yang berarti mendirikan, sedangkan perintah zakat Menggunakan kata ‘ataa-atuu-utia” yang berarti menunaikan. Kenapa harus ada mendirikan dan menunaikan? Nanti Saja kita bahas di forums selanjutnya.

Kembali ke poin tulisan ini. Mengakhiri tulisan ini, shalat memang ritual spiritual belaka yang ditujukan kepada Allah Ta’ala. Tulisan ini pada dasarnya ditujukan bagi masyarakat perkotaan yang haus dan skeptis terhadap perilaku ritual, namun tidak menutup kemungkinan bila tulisan ini bisa diterima halayak lainnya. Maka dari itu, Saya ingin memberikan motivasi dan kesadaran betapa pentingnya ibadah sunnah, tanpa mengenyampingkan ibadah wajib. Dengan menjalankan ibadah sunnah, tentunya kita tidak akan menapikan ibadahn wajib. Ibadah wajib dan sunnah ini tidak sebatas dalam shalat, namun bagi lingkup ibadah-ibadah lainnya.

Semoga Allah Ta’ala memberikan hidayah dan ‘inayah-Nya kepada kita untuk senantiasa menegakkan wajib dan menghidupkan sunnah.

Mohon maaf bila ada yang tidak sepakat dengan tulisan ini.
Wallahu a’lam bish-shawwab.





SELAMAT ‘IDUL ADLHA

7 12 2008

Segenap pengurus dan anggota Komunitas Muslim Muda Alfikr [KOMMA] mengucapkan Selamat Hari ‘Iedul Adlha 1429 Hijriah. Semoga Allah Ta’ala menerima ibadah Qurban kit. Dan bagi yang menunaikan ibadah haji, semoga Allah menjadikannya haji mabrur dan maqbul. Amiin.





Lembaran Hitam di Balik Penampilan Keren Kaum Wahabi

23 02 2008

Kontra Liberal

Oleh: Idrus Ramli*


Ke mana-mana selalu menyebarkan salam. Selalu memakai baju bercorak gamis dan celana putih panjang ke bawah lutut, ciri-khas orang Arab. Jenggotnya dibiarkannya lebat dan terkesan menyeramkan. Slogannya pemberlakuan syariat Islam. Perjuangannya memberantas syirik, bid’ah, dan khurafat. Referensinya, al-Kitab dan Sunah yang sahih. Semuanya serba keren, valid, islami. Begitulah kira-kira penampilan kaum Wahabi. Sepintas dan secara lahiriah meyakinkan, mengagumkan.

Tapi jangan tertipu dulu dengan setiap penampilan keren. Kata pepatah jalanan, tidak sedikit di antara mereka yang memakai baju TNI, ternyata penipu, bukan tentara. Pada masa Rasulullah r, di antara tipologi kaum Khawarij yang benih-benihnya mulai muncul pada masa beliau, adalah ketekunan mereka dalam melakukan ibadah melebihi ibadah kebanyakan orang, sehingga beliau perlu memperingatkan para Sahabat t dengan bersabda, “Kalian akan merasa kecil, apabila membandingkan ibadah kalian dengan ibadah mereka.”


Demikian pula halnya dengan kaum Wahabi, yang terkadang memakai nama keren “kaum Salafi”. Apabila diamati, sekte yang didirikan oleh Muhammad bin Abdul Wahhab an-Najdi (1115-1206 H/1703-1791 M), sebagai kepanjangan dari pemikiran dan ideologi Ibnu Taimiyah al-Harrani (661-728 H/1263-1328 M), akan didapati sekian banyak kerapuhan dalam sekian banyak aspek keagamaan.


 


A. Sejarah Hitam


Sekte Wahabi, seperti biasanya sekte-sekte yang menyimpang dari manhaj Islam Ahlusunah wal Jamaah memiliki lembaran-lembaran hitam dalam sejarah. Kerapuhan sejarah ini setidaknya dapat dilihat dengan memperhatikan sepak terjang Wahabi pada awal kemunculannya. Di mana agresi dan aneksasi (pencaplokan) terhadap kota-kota Islam seperti Mekah, Madinah, Thaif, Riyadh, Jeddah, dan lain-lain, yang dilakukan Wahabi bersama bala tentara Amir Muhammad bin Saud, mereka anggap sebagai jihad fi sabilillah seperti halnya para Sahabat t menaklukkan Persia dan Romawi atau Sultan Muhammad al-Fatih menaklukkan Konstantinopel.


Selain menghalalkan darah kaum Muslimin yang tinggal di kota-kota Hijaz dan sekitarnya, kaum Wahabi juga menjarah harta benda mereka dan menganggapnya sebagai ghanîmah (hasil jarahan perang) yang posisinya sama dengan jarahan perang dari kaum kafir. Hal ini berangkat dari paradigma Wahabi yang mengkafirkan kaum Muslimin dan menghalalkan darah dan harta benda kaum Muslimin Ahlusunah wal Jamaah pengikut mazhab Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali yang tinggal di kota-kota itu. Lembaran hitam sejarah ini telah diabadikan dalam kitab asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhâb; ‘Aqîdatuhus-Salafiyyah wa Da’watuhul-Ishlâhiyyah karya Ahmad bin Hajar Al-Buthami (bukan Al-Haitami dan Al-‘Asqalani)–ulama Wahabi kontemporer dari Qatar–, dan dipengantari oleh Abdul Aziz bin Baz.


 


B. Kerapuhan Ideologi


Dalam akidah Ahlusunah wal Jamaah, berdasarkan firman Allah, “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia (Allah)” (QS asy-Syura [42]: 11), dan dalil ‘aqli yang definitif, di antara sifat wajib bagi Allah adalah mukhâlafah lil-hawâdits, yaitu Allah berbeda dengan segala sesuatu yang baru (alam). Karenanya, Allah itu ada tanpa tempat dan tanpa arah. Dan Allah itu tidak duduk, tidak bersemayam di ‘Arasy, tidak memiliki organ tubuh dan sifat seperti manusia. Dan menurut ijmak ulama salaf Ahlusunah wal Jamaah, sebagaimana dikemukakan oleh al-Imam Abu Ja’far ath-Thahawi (227-321 H/767-933 M), dalam al-‘Aqîdah ath-Thahâwiyyah, orang yang menyifati Allah dengan sifat dan ciri khas manusia (seperti sifat duduk, bersemayam, bertempat, berarah, dan memiliki organ tubuh), adalah kafir. Hal ini berangkat dari sifat wajib Allah, mukhâlafah lil-hawâdits.


Sementara Wahabi mengalami kerapuhan fatal dalam hal ideologi. Mereka terjerumus dalam faham tajsîm (menganggap Allah memiliki anggota tubuh dan sifat seperti manusia) dan tasybîh (menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya). Padahal menurut al-Imam asy-Syafi’i (150-204 H/767-819 M) seperti diriwayatkan olah as-Suyuthi (849-910 H/1445-1505 M) dalam al-Asybâh wan-Nazhâ’ir, orang yang berfaham tajsîm, adalah kafir. Karena berarti penolakan dan pengingkaran terhadap firman Allah, “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia (Allah).” (QS asy-Syura [42]: 11)


 


C. Kerapuhan Tradisi


Di antara ciri khas Ahlusunah wal Jamaah adalah mencintai, menghormati, dan mengagungkan Rasulullah r, para Sahabat t, ulama salaf yang saleh, dan generasi penerus mereka yang saleh seperti para habaib dan kiai yang diekspresikan dalam bentuk tradisi semisal tawasul, tabarruk, perayaan maulid, haul, dan lain-lain.


Sementara kaum Wahabi mengalami kerapuhan tradisi dalam beragama, dengan tidak mengagungkan Nabi r, yang diekspresikan dalam pengafiran tawasul dengan para nabi dan para wali. Padahal tawasul ini, sebagaimana terdapat dalam Hadis-Hadis sahih dan data-data kesejarahan yang mutawâtir, telah dilakukan oleh Nabi Adam u, para Sahabat t, dan ulama salaf yang saleh. Sehingga dengan pandangannya ini, Wahabi berarti telah mengafirkan Nabi Adam u, para Sahabat t, ahli Hadis, dan ulama salaf yang saleh yang menganjurkan tawasul.


Bahkan lebih jauh lagi, Nashiruddin al-Albani–ulama Wahabi kontemporer–sejak lama telah menyerukan pembongkaran al-qubbah al-khadhrâ’ (kubah hijau yang menaungi makam Rasulullah r) dan menyerukan pengeluaran jasad Nabi r dari dalam Masjid Nabawi, karena dianggapnya sebagai sumber kesyirikan. Al-Albani juga telah mengeluarkan fatwa yang mengafirkan al-Imam al-Bukhari, karena telah melakukan takwil dalam ash-Shahih-nya.


Demikian sekelumit dari ratusan kerapuhan ideologis Wahabi. Dari sini, kita perlu berhati-hati dengan karya-karya kaum Wahabi, sekte radikal yang lahir di Najd. Dalam Hadis riwayat al-Bukhari, Muslim, dan lain-lain, Nabi r bersabda, “Di Najd, akan muncul generasi pengikut Setan”. Menurut para ulama, maksud generasi pengikut Setan dalam Hadis ini adalah kaum Wahabi. Wallâhul-hâdî. [BS]


 


*) penulis adalah alumnus Pondok Pesantren Sidogiri, tinggal di Jember


Tulisan ini dimuat di Buletin Sidogiri edisi 26





Catatan Akhir Pekan 7 dan 8: Pengantar episode Kiamat

23 02 2008

Oleh: Muhammad Taqiyuddin

Masih ingatkah Anda akan bencana banjir yang melanda DKI Jakarta dan sekitarnya pada Februari-Maret 2007 lalu? Ya, hampir 70 persen daerah metropolitan itu tenggelam dan nyaris tiada aktifitas kehidupan. Banjir tahun lalu diperkirakan banjir siklus lima tahunan. Artinya, hanya terjadi setiap lima tahun sekali. Namun, kenapa hingga tahun ini yang notabene belum masuk ke dalam lima tahunan pasca banjir sebelumnya, sudah kembali dilanda banjir besar.

Dimulai pada Jum’at awal Februari 2008, lalu, langit Jakarta dan Bogor berwarna gelap. Tiba-tiba saja dari arah langit berbunyi “dar-der-dor”, dan hujan pun turun. Bisa Anda bayangkan, 10 menit hujan turun, Jakarta pun direndam banjir. Kenapa? Karena hujan berasal dari Bogor dan puncak Cisarua. Tidak hanya itu, Jakarta pun ikut ‘menghasilkan’ hujan sendiri alias ‘swasembada hujan’. Banjir besar tidak bisa dihindari. Kawasan Bandara Soekarno-Hatt, Cengkareng, pun sukar dilewati, karena tergenang banjir. Tidak hanya itu, jalan-jalan yang berdekatan dengan perbatasan Tangerang, Depok, Bekasi, Karawang pun tergenang banjir. Bahkan, beberapa kali Bendung Katulampa, Bogor, mengalami peningkatan debit air.

Banjir yang terjadi pekan ini di beberapa daerah ternyata bukan disebabkan siklus lima tahunan. Bencana ini akan menjadi sebuah kebiasaan alias ‘musiman’. Seorang pengamat lingkungan pernah berpendapat, 30 tahun lagi kota Jakarta akan tenggelam di rendam banjir. Mungkinkah? Ya, mungkin saja. Ada beberapa indikasi ke arah itu. Coba Anda bayangkan, menurut beberapa sumber, setiap bulan permukaan tanah di Jakarta mengalami pendataran 0,5 cm akibat pembangunan gedung bertingkat. Anda bayangkan, bagaimana bila dihitung hingga 2010. Akan seperti apa nasib kota Jakarta ke depan? Bagaimana dengan kota Bogor yang merupakan markasnya KOMMA? Mungkin markas KOMMA akan menjadi posko banjir!!!

Bencana berkepanjangan

Akankah bencana ini berkepanjangan? Jawabnya: Ya, tentu!. Bencana alam, mulai dari tanah longsor, banjir, gempa bumi, gunung meletus, dan angin topan akan terus berlanjut. Bahkan, sejak tahun 1988 sampai pertengahan  2003 jumlah bencana di Indonesia mencapai 647 bencana alam meliputi banjir, longsor, gempa bumi, dan  angin topan, dengan jumlah korban jiwa sebanyak 2022 dan jumlah kerugian mencapai ratusan milyar. Jumlah tersebut belum termasuk bencana yang terjadi pertengahan tahun 2003 sampai pertengahan 2004 yang mencapai ratusan bencana dan mengakibatkan hampir 1000 korban jiwa.

Para pengamat lingkungan mengatakan, bencana alam yang terjadi sejak beberapa tahun lalu hingga saat ini disebabkan pemanasan global. Bagi Saya, seorang muslim, juga aktifis KOMMA, berpendapat lain. Bencana saat ini merupakan episode pembuka menuju kiamat. Jika Issac Newton memprediksi kiamat akan terjadi 2055, Saya pun ikut sepakat. Bahkan, waktu itu bisa saja maju. Apa alasannya? Saya mencoba menganalisa sekilas fenomena banjir dari al-Quran.

Dalam beberapa ayat di al-Quran, Saya menangkap sinyal-sinyal Kiamat. Bila Anda memperhatikan laut selat Sunda, Selat Madura, dan perairan samudera Hindia, akhir-akhir ini mengalami gelombang tinggi  mencapai 8 meter. Akibatnya, para nelayan dan kapal-kapa pengangkut barang atau ferry pun kandas berlayar. Liputan6.com melaporkan, akibat gelombang itu kerugian mencapai Rp17 miliar.

Total kerugian akibat cuaca buruk yang harus ditanggung para nelayan, pedagang ikan serta pemerintah daerah mencapai Rp 17 miliar. Maklum, cuaca yang kurang bersahabat membuat kerusakan berbagai infrastruktur dan menghentikan aktivitas ekonomi di sekitar Pelabuhan Muara Baru, Jakarta Utara.

Hingga Jumat (22/2), para nelayan di Muara Baru belum berani melaut karena cuaca masih belum bersahabat. Mereka lebih memilih memarkir kapal-kapalnya di sepanjang dermaga. Sementara itu kapal-kapal yang sudah melaut belum lagi kembali untuk menyalurkan stok ikan segar.

Jangan kaget bila dalam al-Quran mengatakan, permukaan laut akan meluap ke daratan. Hal ini dinyatakan dalam surat Attakwir [81] ayat 6: “Dan apabila lautan dijadikan meluap”, dan surat Al-Infithar [82] ayat 3: “Dan apabila lautan menjadikan meluap”. Kedua surat ini merupakan rangkaian surat yang menjelaskan tana-tanda kiamat.

Ulama-ulama klasik dan masyarakat awam menganggap, kiamat itu sebuah peristiwa mahadahsyat yang tidak pernah terbayangkan. Menurut mereka, kiamat itu peristiwa di mana tiada lagi kehidupan. Mereka berfikir, kiamat sekali jadi, langsung terjadi. Padahal, perjalanan menuju kiamat sudah di mulai. Hanya kita saja yang tidak sadar dan tidak paham akan fenomena yang terjadi. Manusia dengan paham materialisme dan pragmatismenya seakan lupa akan kehidupan akhirat. Mereka hidup seenaknya tanpa memikirkan dampak buruk terhadap lingkungan.

Apakah kiamat bisa dicegah? Ya, bisa. Meski Alloh Subhanahu wata’ala sudah menetapkan waktunya, tapi tidak ada seorang pun yang mengetahuinya. Maka dari itu, sejak saat ini mari kita ‘cegah’ datangnya kiamat secara tiba-tiba dengan menjaga lingkungan ini. Sayangi alam dan isinya, insyaaLloh Alloh ta’ala pun akan menyayangi kita.

Tulisan ini tidak bermaksud me-‘liberal’-kan tafsir al-Quran, namun Saya hanya berusaha mencoba menangkap informasi dari al-Quran, karena banyak informasi lain yang bisa digali dari al-Quran yang bisa menjadi referensi hidup kita.





Pak Harto Meninggal Dunia

27 01 2008

Innalillahi wa’inailaihi roji’un, hari ini Ahad pukul 13.10 WIB tanggal 27 Jan 2008, mantan Presiden Soeharto meninggal dunia di Rumat Sakit Pusat Pertamina, Jakarta. Hal ini dijelaskan langsung dalam jumpa pers oleh ketua tim dokter kepresidenan dr Mardjo Soebiandono dan anak tertua Pak Harto Siti Hardiyanti Rukmana. Dalam jumpa pers tersebut, Mbak Tutut mengucapkan banyak terimakasih atas segala do’a yang telah dipanjatkan kepada Beliau oleh semua pihak dan meminta maaf atas segala kesalahan yang telah dilakukan oleh Pak Harto dan mendoakan semoga arwah beliau diterima Allah dan diampuni segala dosa-dosanya.Sementara itu Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono yang sedianya akan melakukan kunjungan ke Bali dalam rangka menghadiri konferensi anti korupsi pukul 14.00 WIB membatalkan kunjungannya. Presiden juga menetapkan hari berkabung nasional selama 7 hari mulai hari ini sampai pekan depan. [Bang Jarkom KOMMA]