Shalat Tepat Waktu dan Urusan Rejeki

17 02 2009

Oleh Kang Taqi

Saya merasa berterima kasih tak terhingga kepada para pengunjung setia web/blog KOMMA. Salam ta’zhim kami tujukan kepada salah satu pengunjung yang sering mengomentari beberapa tulisan. Di antara k0mentar tersebut ada yang memohon KOMMA melanjutkan pembahasan shalat laksana bisnis. Berikut ini tulisan yang berhubungan antara shalat dan rejeki. Semoga menggugah.

Kali ini Saya ingin menyampaikan shalat dan urusan rejeki. Eits, jangan anggap ini biasa dan lumrah. Jangan anggap shalat untuk meminta rejeki semata, tapi silakan baca tulisan ini hingga akhir. Setelah itu, Anda boleh komentar. Kalau jelek, ya katakan saja jelek. Namun bukan itu tujuannya. Saya hanya ingin Anda baca ini. InsyaaLlah bermanfaat.

Kalau shalat yang berarti do’a, itu sudah biasa. Tapi ini ada hal luar biasa. Dalam shalat memang terdapat banyak do’a, tidak terkecuali dengan do’a untuk memohon rejeki. Namun, bagaimana mau diijabah bila shalatnya tidak tepat waktu.

Saya teringat dengan Ustadz HM Yusuf Mansur, yang bercerita tentang seorang satpam di salah satu stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU). Satpam berkeluh kesah kepada ustadz mengenai pekerjaannya yang hanya menjadi satpam terus sejak enam tahun ia bekerja. Satpam meminta amalan untuk diluaskan rejeki, tapi ustadz tidak langsung menurutinya.

Ustadz mengira, pasti ada masalah dalam diri satpam yang mengakibatkan pintu rejekinya tersumbat. Ustadz pun bertanya mengenai shalatnya. Kebetulan saat itu pukul 17.00 WIB, Ustadz kondang itu bertanya, “Sudah shalat ‘Ashar?”. Itu pertanyaan pembuka dari ustadz untuk mengidentifikasi masalah satpam.

“Baru saja (shalat), lima menit yang lalu,” jawab satpam. “MasyaaLlah,” kata ustadz sambil menggelengkan kepala. “Bagaimana mau dapat rejeki tepat waktu bila shalat untuk meminta kepada Allah saja telat dua jam. Coba bayangkan, bila sehari ada lima waktu, dan kelima waktu itu telat dua jam, berarti sehari telat shalat selama 10 jam. Bila dikalikan ke dalam bilangan bulan, maka hasilnya 300 jam. Bila dikalikan ke dalam tahun, berarti setahun telat shalat selama 3600 jam,” jelas ustadz laksana berceramah di televisi.

Wah, mendengar penjelasan ustadz pasti kita tercengang. Pertanyaan selanjutnya, sudah berapa lama satpam itu telat shalat. Andaikata satpam itu sering telat shalat selama 10 tahun, berarti dia telat shalat selama36000 jam. 36000 jam bila dibagi 24 jam (sehari), sama dengan 1500 hari. Bila digenapkan ke dalam bilangan tahun, sama dengan lebih kurang empat tahun. Berarti satpam itu telat shalat dalam kurun waktu 10 tahun itu selama 4 tahun. MasyaaLlah!

Apa maksudnya? Ini pembahasan pentingnya. Anaikan satpam tadi shalat tepat waktu setiap waktu shalat, ia hanya menjadi satpam lebih kurang dua tahun. Tapi, karena dia telat meminta kepada Allah, dalam artian shalat, maka ia pun telat mendapatkan rejeki dari Allah. Alhasil, selama enam tahun ia harus ‘menderita’ sebagai satpam, tanpa ada peningkatan dan kenaikan jabatan.

Kepada siapa pun yang biasa menunda pelaksanaan waktu shalat, segeralah menghilangkan kebiasaan buruk itu, karena bisa jadi saat itu Allah akan mengqabulkan permintaan kita.

Saya sangat senang terhadap beberapa sekolah Islam yang membiasakan shalat tepat waktu untuk shalat Zhuhur. Semoga program ini berjalan istiqamah. Amiin.

Wallahu A’lam.


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: