QURBAN RITUAL IBADAH SOSIAL

7 12 2008

Oleh KANG TAQI [Sekjen KOMMA]

Apa jadinya jika seorang ayah diperintahkan membunuh putra tercinta sematawayangnya? Jika perintah ituterjadi sekarang, Saya yakin tidak satu pun orang tua yang menghendakinya. Namun bagi seorang hamba Allah yang taat, jika perintah itu datang dari Allah Ta’ala, Saya yakin siapa pun akan menurutinya.

Alkisah, Ibrahim ‘Alaihissalam –bapaknya para Anbiya– rutin berqurban binatang ternak. Menurut pendapat ‘ulama, Ibrahim berqurban seribu kambing (atau sejenisnya), tiga ratus sapi, dan seratus ekor unta. Masyarakat di sekitarnya saat itu takjub dan berkata, “Wah Ibrahim hebat!”

Serasa tidak ingin sombong, Ibrahim menjawab, “Hewan ternak ini biasa saja. Seandainya aku dikaruniai putra, ia akan aku korbankan.” Demikian kira-kira jawaban Ibrahim As kepada masyarakat saat itu.

Atas perkenan Allah Ta’ala, Ibrahim pun dikaruniai putra dari istri keduanya, Hajar. Putra itu bernama Isma’il yang kelak akan melanjutkan perjuangan tauhid ayahnya. Kehadiran putra yang dinantikan Ibrahim As sepertinya membuat ia lupa terhadap janjinya. Ibrahim pun ditegur oleh Allah Ta’ala melalui mimpi-mimpinya selama berkali-kali.

Ibrahim bermimpi mendapatkan perintah untuk menyembelih putranya. Karena mimpi itu baru kali pertama, ia meragukannya. Ia khawatir perintah itu dari setan. Pada kali kedua Ibrahim As kembali mendapatkan mimpi yang sama. Setelah lebih dari sekali ia bermimpi yang sama, ia mengetahui dan yakin bahwa mimpi itu benar yang bersumber dari Allah Ta’ala.

Sewaktu Ibrahim meyakini mimpi itu bersumber dari Allah, ia segera meyakinkan Isma’il bahwa Allah telah memerintakan menyembelih Isma’il. Jiwa kesalehan Isma’il pun diuji untuk berbakti kepada Tuhan dan ayahnya. Isma’il pun menurutinya.

Meski Isma’il menurutinya, setan tidak pernah berhenti menggoda anak-anak adam. Setan menggoda Hajar, ibunda Isma’il. Setan mengusik hati Hajar untuk tidak menuruti keinginan Ibrahim. Demikian dengan Isma’il, ia pun dihampiri dan digoda setan. Namun atas kesalehannya, Isma’il melempari setan dengan tujuh lemparan, yang hingga saat ini diabadikan dalam ritual jumrah ula, wustha, dan ‘aqabah.

Tatkala pisau tajam yang dipersiapkan Ibrahim akan menghunus leher Isma’il, Allah Ta’ala melalui malaikat Jibril menggantikan Isma’il dengan seekor gibas (sejenis domba). Gibas yang disembelih, dan Isma’il pun selamat dari proses penyembelihan itu.

Ritual ibadah qurban berawal dari kisah di atas. Hingga saat ini ibadah itu dilembagakan dengan baik dan teratur oleh Rasulullah Saw. Oleh para ‘ulama salafussaleh, ibadah itu dikembangkan dengan berbagai cara namun inti pokok tujuan dan pelaksanaannya sama, hanya penyajiannya berbeda.

Dalam Islam dikenal ibadah berbentuk ritual individual yang berhubungan langsung kepada Allah Ta’ala, seperti shalat fardlu, puasa, haji, dan dzikir. Jenis ibadah ini dikenal dengan istilah ‘Ibadah ghairu mahdlah.

Jenis ibadah lainnya ialah ibadah sosial yang tidak langsung dihubungkan dengan Allah Ta’ala, namun niatnya tetap untuk Allah. Contoh ibadah ini ialah zakat dan qurban. Jenis ibadah ini dikenal dengan istilah ‘Ibadah mahdlah.

Ibadah Qurban memiliki hikmah dalam dan luas. Dengan beribadah qurban, selain kita menunjukkan pengabdian dan ketaatan kepaa Allah Ta’ala, kita juga membuktikan rasa perhatian, kepedulian, solidaritas, dan persaudaraan terhadap sesama. Tidak banyak manusia yang mampu memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Tengok di bantaran sungai di Jakarta. Di sana masih banyak masyarakat dlu’afa yang tidur digubuk beratapkan langit dan berhamparkan sampah. Tidak hanya itu, tahun lalu di Tangerang terdapat masyarakat yang memakan nasi aking akibat tidak mampunya membeli kebutuhan makan. Apakah hati kita tidak terenyuh melihat fenomena tersebut?

Islam bukan sekedar agama ritual dengan menggelengkan kepala, memutar tasbih, ataupun menghindarkan diri dari keramaian. Berdzikir dan memperbanyak tahajjud memang benar, namun dalam Alquran terdapat perintah shalat yang selalu disandingkan dengan perintah zakat. Ini menunjukkan Allah Ta’ala selalu mementingkan kesalehan individual dan kesalehan sosial.

Dengan mengambil momen baik di ‘Idul Adlha, ayo kita berqurban. Andaikata belum saat ini belum mampu, mari dari sekarang kita menabung. Di Komunitas Muslim Muda Alfikr [KOMMA] menyelenggarakan Tabungan Ibadah Kurban (Tikar), dengan menyisihkan Rp50.000,- per bulan. Sistemnya bisa dicicil setiap pertemuan ta’lim Rp10.000,- s.d. Rp30.000,-. Dengan sistem seperti ini diharapkan setelah 12 bulan, setiap peserta Tikar dapat berqurban seekor kambing seharga Rp600.000,-. Bahkan di salah satu Sekolah Dasar Islam di Jakarta, terdapat tabungan serupa. Oleh karena itu mari kita belajar berqurban yang diniatkan untuk Allah Ta’ala.

[Tulisan ini merupakan pengembangan dari surat Ash-Shaffat ayat 99-113]

Wallohu a’lam bish-shawab.


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: