Beberapa Nasehat Pasca Ramadhan

28 09 2008

<!–[if !mso]> <! st1\:*{behavior:url(#ieooui) } –>

Oleh Kang Taqi

Tidak terasa Ramadhan akan meninggalkan kita. Bagi muslim yang merasakan kedekatannya dengan Ramadhan, pasti akan merasakan kesepian dan sedih ditinggalkannya. Berbeda dengan kalangan yang tidak dekat, mereka pun akan sedih, namun bukan karena akan ditinggalkan Ramadhan, melainkan karena belum membeli keperluan lebaran.

Ramadhan ibarat Sekolah

Pada dasarnya, Ramadhan ibarat sebuah sekolah yang menjadi tempat pengajaran dan pendidikan seorang anak manusia untuk menjadi lebih baik. Khusus untuk Ramadhan, tujuannya ialah untuk menjadikan orang yang melaksanakannya menjadi manusia bertaqwa. Dalam Albaqarah ayat 183, tujuan puasa bitu dinyatakan dengan jelas, “La’allakum tattaquun“. Agar kamu bertaqwa, ialah arti dari penggalan ayat itu.

Banyak ulama yang memberikan pengertian terhadap istilah taqwa. Secara umum, taqwa ialah melaksanakan segala perintah Allah Swt dan menjauhi segala larangannya. Taqwa dalam tujuan puasa bukan sejenak, bukan menjadi bertaqwa sesaat saja ketika Ramadhan, namun taqwa tersebut ialah berkepanjangan. Hal ini dibuktikan dengan pemakaian kata tattaquun dalam ayat puasa tadi, yakni menggunakan kata kerja (fi’il) mudhari’, yang berarti sedang dan akan terus berlangsung hingga waktu mendatang. Oleh karena itu, pasca Ramadhan, kita harus semakin taqwa, semakin menjalankan perintah Allah Swt dan menjauhi laranganNya. Dan, Ramadhan lah sekolah yang meluluskan pelaku (salik)nya menjadi manusia bertaqwa.

Sabar dan bertambah Ta’at

Berpuasa di perkampungan yang mayoritas beragama Islam tidak terlalu bermasalah, karena gangguannya tidak banyak. Namun, bila kita berada di perkotaan yang bercampur antara muslim dan non muslim, kita akan banyak terganggu dengan perilaku orang-orang yang tidak berpuasa. Perhatikan ketika kita berada di mall, pasar, terminal, dan stasiun, kita serasa tidak sedang berada di bulan Ramadhan, karena di sekeliling kita asap rokok berhamburan, misalnya. Tentu kita akan terganggu. Oleh karena itu, berpuasa di lingkungan tersebut diperlukan kesabaran yang tinggi, berbeda dengan di pedesaan yang tidak terlalu banyak gangguannya.

Ramadhan mengajarkan kita berlaku sabar. Bila kita menghadapi masalah berat dan stress, kita merasa tertekan, dan rasanya kita ingin marah. Inilah ujian ketika berpuasa. Ujian kesabaran itu bukan saat berpuasa, tapi setelah berbuka pun kita harus bersabar. Di saat berbuka, banyak makanan dan minuman yang menggoda. Kita jangan tergiur oleh perkara duniawi yang mengakibatkan kita berlebihan dalam menikmati hidangan berbuka.

Tidak hanya saat berpuasa dan berbuka kita diuji kesabaran. Oleh karena kita sudah terdidik untuk bersabar, maka saat berlebaran pun kita semampu mungkin untuk bersabar dan menahan diri dari perbuatan berlebihan dalam berlebaran. Sudah menjadi rahasia umum bila memasuki awal Syawal, kita selalu tergiur oleh kesenangan sejenak, padahal saat itu belum tentu seluruh umat Islam merayakannya dengan meriah. Lihat anak di pinggiran jalan, kolong jembatan, emperan toko, dan gelandangan kota, yang tidak berbaju baru serta bersenang ria. Maka dari itu, kita harus berlaku sabar terhadap kesenangan duniawi. Ingat kata ahli hikmah, laisal ‘ied liman labisal jadiid, wa lakinnal ‘ied liman tho’atuhu taziid. Artinya, hari raya ‘ied itu bukan bagi orang yang berpakaian baru, namun bagi orang yang bertambah keta’atannya.

Ada apa setelah Ramadhan?

Ada yang mengartikan bahwa Syawwal yang berarti “meningkat”, merupakan isyarat agar kita meningkatkan ibadah di bulan-bulan selanjutnya. Ada benarnya juga pendapat itu. Dalam ibadah haji, pelakunya selalu memohon untuk menjadi haji mabrur, yakni bila saat ibadah haji ia beribadah sungguh-sungguh, maka ibadah itu harus berlanjut. Sedangkan bagi puasa, gelar yang sering dituju ialah Muttaqiin, yakni menjadi orang bertaqwa. Seperti dibahas di atas, bertaqwa tidak saat Ramadhan saja, tapi harus berkelanjutan.

Setelah Ramadhan, banyak ibadah-ibadah lain yang bisa dilaksanakan. Ada ibadah wajib dan ibadah sunnah. Saya ingin mengqiyaskan mengenai ibadah wajib dan sunnah. Dalam usaha atau bisnis, tentu kita ingin untung. Dalam ibadah pun harus demikian. Ibadah wajib, itu modal. Kalau sekedar ibadah wajib saja, tentu hanya akan balik modal saja. Bila ingin untung, maka ibadah sunnah harus dilakukan. Wajibnya ditegakkan, sunnahnya dihidupkan!

Di bulan Syawwal ada ibadah sunnah puasab Syawwal enam hari. Di luar Ramadhan ada puasa seunnah hari Senin dan Kamis. Ada pula puasa ayyamul biidh, puasa tiga hari dalam sebulan; 13, 14, 15. Bahkan, ada pula puasanya Nabi Daud As; sehari puasa sehari berbuka. Selain itu pula ada puasa-puasa sunnah lainnya yang terikat waktu.

Tidak hanya puasa sunnah, namun shalat-shalat sunnahnya pun dihidupkan. Ada shalat malam, shalat dluha, shalat rawatib, shalat tasbih, shalat istikharah, dan lain-lain. Bahkan, ada ibadah sunnah lainnya, yakni shadaqah sunnah. Ingat, ash-shadaqatu tajliiburrizq; shadaqah itu dapat mengundang rizqi.

Sebagai muslim, tentunya, mengaji Alquran tidak hanya di bulan Ramadhan, namun di bulan-bulan lainnya. Bahkan tidak sekedar membaca, namun menghafal dan memahaminya dengan baik. Dengan demikian, kita dapat menjadi muslim seutuhnya. Muslim yang muttaqin dan muflihuun, sehingga keluar Ramadhan ini kita termasuk di antara golongan yang al-‘aidiin wal faa iziin.

Saya yakin, bila kita keluar dari Ramadhan berpredikat muttaqin, bisa melanggengkan amalan-amalan tersebut meskipun sedikit. Amiin.


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: