Acara Gospel di Kota Wali?

9 07 2008

”Allahu Akbar… Allahu Akbar…. Jangan biarkan kaum misionaris menebarkan ajarannya di Kota Wali!”

Teriakan penuh semangat itu dengan tegas dikumandangkan ribuan massa yang terdiri atas para ulama, pengasuh pondok pesantren, santri, dan warga dari berbagai daerah di wilayah III Cirebon di depan Balai Kota Cirebon, Kamis (3/7). Dalam aksi itu, massa yang tergabung dalam Forum Silaturahim Umat Islam Kota Wali menuntut pembongkaran bangunan stasiun Cahaya Televisi Indonesia (CTV).

Massa menilai, CTV yang didirikan PT Cirebon Televisi Indonesia itu bukan televisi lokal biasa, melainkan untuk menyebarkan kepentingan misionaris. Padahal, masyarakat wilayah III Cirebon yang meliputi Kab/Kota Cirebon, Indramayu, Kuningan, dan Majalengka, 98 persen penganut Islam. CTV yang berkantor di Kel Argasunya, Kec Harjamukti, Kota Cirebon, ini pun diminta angkat kaki oleh mereka.

Ribuan massa yang datang dengan menumpang puluhan unit truk itu mengawali aksinya dari alun-alun Kejaksaan Kota Cirebon sekitar pukul 08.00 WIB. Setelah selesai berorasi di tempat tersebut, massa kemudian berjalan kaki menuju Balai Kota Cirebon yang terletak di Jl Siliwangi. Massa menempati seluruh ruas badan jalan sehingga polisi terpaksa mengalihkan arus kendaraan ke jalan lain.

Tepat di depan Balai Kota Cirebon, ribuan massa dengan tertib mendengarkan orasi yang disampaikan sejumlah ulama. Tak hanya berorasi, ribuan massa pun melakukan tahlil dan doa bersama yang dipimpin para ulama. Dalam orasinya, para ulama dengan tegas menyatakan penolakan terhadap keberadaan CTV, baik itu berupa bangunan maupun aktivitas siaran yang nantinya akan dilakukan. Pasalnya, seperti di daerah lainnya, kegiatan siaran CTV terbukti mengandung unsur misionaris sehingga akan menimbulkan keresahan dan kemarahan umat Islam.

‘Kami tidak akan menoleransi segala bentuk pemurtadan di Kota Wali ini. Kami akan melawannya,” tegas salah seorang ulama, Habib Quraish. Hal senada diungkapkan seorang ulama lainnya, Habib Abdurrahman. Dia pun mendesak Wali Kota Cirebon, Subardi, untuk mencabut segala perizinan CTV dan membongkar bangunannya yang kini dalam tahap finishing. Bahkan, umat Islam sepakat memberikan waktu tujuh kali 24 jam bagi pemerintah untuk melaksanakan pencabutan izin.

Abdurrahman mengatakan, umat Islam sebenarnya tidak ingin melakukan tindakan sendiri terhadap keberadaan CTV. Karena itu, umat Islam berharap Wali Kota mengambil tindakan tegas. ”Islam tidak membenci agama lain. Tapi, agama lain jangan coba-coba mengganggu Islam,” tandas Abdurrahman.

Berdasarkan catatan Republika, desakan umat Islam yang menuntut pencabutan izin CTV dan pembongkaran bangunannya itu bukanlah yang pertama. Sebelumnya, umat Islam pernah menyampaikan aspirasi tersebut kepada perangkat Kelurahan Argasunya, Komisi A DPRD Kota Cirebon, ataupun instansi terkait lainnya. Namun, karena tidak ada tindak lanjut yang nyata, mereka pun menyegel bangunan CTV.


Cahaya TV Baru Proposal, Bangunan Cahaya TV yg disegel masyarakat

Kegiatan penyegelan yang didukung Gerakan Anti Pemurtadan dan Aliran Sesat (GAPAS) Forum Ukhuwah Islamiyah (FUI) wilayah III Cirebon itu, kali pertama dilakukan Jumat (4/4) . Tindakan penyegelan tersebut ditandai dengan pembentangan spanduk yang bertulis, ‘‘TV Misionaris Ini Disegel Umat Islam Wilayah III Cirebon karena Berpotensi Menjadi Media Pemurtadan dan Kristenisasi.” Spanduk itu dipasang di tembok bangunan stasiun TV tersebut. Warga juga mengumpulkan 4.000 tanda tangan yang berisi penolakan terhadap keberadaan CTV.

Namun, pihak CTV seolah tak peduli dengan penolakan warga. Beberapa hari setelah dipasang, pihak CTV mencopot spanduk itu. Tak ayal, sikap pihak CTV itu mengundang kemarahan warga dan umat Islam. Bersama-sama dengan GAPAS, ribuan warga memutuskan memasang kembali segel terhadap bangunan studio tersebut, Selasa (15/4). Kali ini, spanduk penyegelan itu bertuliskan, ”TV Bermasalah Ini Disegel oleh Kami, Warga Argasunya dan Didukung Umat Islam.” Pekikan takbir dan kumandang shalawat mengiringi penyegelan itu.

Warga Argasunya, Kaniah (51), mengaku tak sudi jika lingkungan tempat tinggalnya dijadikan kegiatan misionaris. Dia khawatir anak cucunya kelak terbawa bujuk rayu kaum misionaris jika CTV tetap dibiarkan berdiri. ”Pokoknya, kami menolak keberadaan CTV,” katanya. Ketua GAPAS FUI wilayah III Cirebon, Alan Endy Pasha, mengatakan, timnya telah melakukan penelusuran. Mereka mendapati CTV di Cirebon akan menjalin link dengan CTV Banten. Padahal, kata Alan, para ulama dan masyarakat Banten saat ini resah dengan tayangan CTV.

Alan menyebutkan, sejumlah jadwal acara CTV Banten yang meresahkan umat Islam antara lain Gospel Comptemp, New Edge, Cahaya Kasih, dan Mountain Stage. Acara-acara tersebut sarat nilai-nilai Kristen, padahal mengudara di daerah yang mayoritas didiami umat Islam. ”Kami tak ingin itu terjadi di wilayah III Cirebon yang menjadi salah satu pusat penyebaran agama Islam di tanah Jawa pada masa Sunan Gunung Jati,” kata Alan.

Apalagi, berdasarkan data dari Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), jumlah Muslim di wilayah III Cirebon mencapai 98 persen. Di Kel Argasunya yang dijadikan lokasi pendirian CTV, jumlah Muslim malah mencapai 99 persen. Di Argasunya kini berdiri tiga pesantren yang usianya sudah ratusan tahun. CTV, jelas Alan, merupakan stasiun TV milik Nikodemus Sudirgo. Dia adalah putra Gideon Sudirgo. Selama ini, Gideon Sudirgo dikenal sebagai pimpinan jemaat Gratia Cirebon. Alan mengatakan, jemaat Gratia juga telah mendirikan gedung pertemuan umum Gratia di Jl Sudarsono No 32, Kesambi Kota Cirebon.

Mulanya, gedung itu dimaksudkan untuk tempat pertemuan umum, tapi kemudian dialihfungsikan menjadi tempat kebaktian dan pemurtadan terhadap umat Islam. Atas desakan umat Islam, aktivitas peribadatan di gedung itu dihentikan aparat Pemkot Cirebon, akhir 2007-an. Republika sempat mendatangi bangunan CTV untuk mengonfirmasi Nikodemus Sudirgo. Namun, Nikodemus ataupun para pegawai CTV tak berada di tempat. Satpam yang menjaga bangunan itu, Toni, mengatakan, sudah sebulan Nikodemus tak mengunjungi CTV. ”Dia memang jarang datang ke sini,” kata Toni.

Sementara itu, menanggapi desakan umat Islam, Wali Kota Cirebon, Subardi, mengaku akan membahas masalah CTV itu dengan Komisi Penyiaran Daerah (KPID) Jawa Barat, hari ini (7/7). Jika KPID Jabar tidak memberikan izin penyiaran terhadap CTV, dia mengatakan, semua perizinan yang telah telanjur diberikan kepada CTV akan dicabut. Apa iya masyarakat Kota Wali yang 98 persen Muslim butuh acara Gospel? lis

sumber : Republika


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: