Catatan Akhir Pekan 7 dan 8: Pengantar episode Kiamat

23 02 2008

Oleh: Muhammad Taqiyuddin

Masih ingatkah Anda akan bencana banjir yang melanda DKI Jakarta dan sekitarnya pada Februari-Maret 2007 lalu? Ya, hampir 70 persen daerah metropolitan itu tenggelam dan nyaris tiada aktifitas kehidupan. Banjir tahun lalu diperkirakan banjir siklus lima tahunan. Artinya, hanya terjadi setiap lima tahun sekali. Namun, kenapa hingga tahun ini yang notabene belum masuk ke dalam lima tahunan pasca banjir sebelumnya, sudah kembali dilanda banjir besar.

Dimulai pada Jum’at awal Februari 2008, lalu, langit Jakarta dan Bogor berwarna gelap. Tiba-tiba saja dari arah langit berbunyi “dar-der-dor”, dan hujan pun turun. Bisa Anda bayangkan, 10 menit hujan turun, Jakarta pun direndam banjir. Kenapa? Karena hujan berasal dari Bogor dan puncak Cisarua. Tidak hanya itu, Jakarta pun ikut ‘menghasilkan’ hujan sendiri alias ‘swasembada hujan’. Banjir besar tidak bisa dihindari. Kawasan Bandara Soekarno-Hatt, Cengkareng, pun sukar dilewati, karena tergenang banjir. Tidak hanya itu, jalan-jalan yang berdekatan dengan perbatasan Tangerang, Depok, Bekasi, Karawang pun tergenang banjir. Bahkan, beberapa kali Bendung Katulampa, Bogor, mengalami peningkatan debit air.

Banjir yang terjadi pekan ini di beberapa daerah ternyata bukan disebabkan siklus lima tahunan. Bencana ini akan menjadi sebuah kebiasaan alias ‘musiman’. Seorang pengamat lingkungan pernah berpendapat, 30 tahun lagi kota Jakarta akan tenggelam di rendam banjir. Mungkinkah? Ya, mungkin saja. Ada beberapa indikasi ke arah itu. Coba Anda bayangkan, menurut beberapa sumber, setiap bulan permukaan tanah di Jakarta mengalami pendataran 0,5 cm akibat pembangunan gedung bertingkat. Anda bayangkan, bagaimana bila dihitung hingga 2010. Akan seperti apa nasib kota Jakarta ke depan? Bagaimana dengan kota Bogor yang merupakan markasnya KOMMA? Mungkin markas KOMMA akan menjadi posko banjir!!!

Bencana berkepanjangan

Akankah bencana ini berkepanjangan? Jawabnya: Ya, tentu!. Bencana alam, mulai dari tanah longsor, banjir, gempa bumi, gunung meletus, dan angin topan akan terus berlanjut. Bahkan, sejak tahun 1988 sampai pertengahan  2003 jumlah bencana di Indonesia mencapai 647 bencana alam meliputi banjir, longsor, gempa bumi, dan  angin topan, dengan jumlah korban jiwa sebanyak 2022 dan jumlah kerugian mencapai ratusan milyar. Jumlah tersebut belum termasuk bencana yang terjadi pertengahan tahun 2003 sampai pertengahan 2004 yang mencapai ratusan bencana dan mengakibatkan hampir 1000 korban jiwa.

Para pengamat lingkungan mengatakan, bencana alam yang terjadi sejak beberapa tahun lalu hingga saat ini disebabkan pemanasan global. Bagi Saya, seorang muslim, juga aktifis KOMMA, berpendapat lain. Bencana saat ini merupakan episode pembuka menuju kiamat. Jika Issac Newton memprediksi kiamat akan terjadi 2055, Saya pun ikut sepakat. Bahkan, waktu itu bisa saja maju. Apa alasannya? Saya mencoba menganalisa sekilas fenomena banjir dari al-Quran.

Dalam beberapa ayat di al-Quran, Saya menangkap sinyal-sinyal Kiamat. Bila Anda memperhatikan laut selat Sunda, Selat Madura, dan perairan samudera Hindia, akhir-akhir ini mengalami gelombang tinggi  mencapai 8 meter. Akibatnya, para nelayan dan kapal-kapa pengangkut barang atau ferry pun kandas berlayar. Liputan6.com melaporkan, akibat gelombang itu kerugian mencapai Rp17 miliar.

Total kerugian akibat cuaca buruk yang harus ditanggung para nelayan, pedagang ikan serta pemerintah daerah mencapai Rp 17 miliar. Maklum, cuaca yang kurang bersahabat membuat kerusakan berbagai infrastruktur dan menghentikan aktivitas ekonomi di sekitar Pelabuhan Muara Baru, Jakarta Utara.

Hingga Jumat (22/2), para nelayan di Muara Baru belum berani melaut karena cuaca masih belum bersahabat. Mereka lebih memilih memarkir kapal-kapalnya di sepanjang dermaga. Sementara itu kapal-kapal yang sudah melaut belum lagi kembali untuk menyalurkan stok ikan segar.

Jangan kaget bila dalam al-Quran mengatakan, permukaan laut akan meluap ke daratan. Hal ini dinyatakan dalam surat Attakwir [81] ayat 6: “Dan apabila lautan dijadikan meluap”, dan surat Al-Infithar [82] ayat 3: “Dan apabila lautan menjadikan meluap”. Kedua surat ini merupakan rangkaian surat yang menjelaskan tana-tanda kiamat.

Ulama-ulama klasik dan masyarakat awam menganggap, kiamat itu sebuah peristiwa mahadahsyat yang tidak pernah terbayangkan. Menurut mereka, kiamat itu peristiwa di mana tiada lagi kehidupan. Mereka berfikir, kiamat sekali jadi, langsung terjadi. Padahal, perjalanan menuju kiamat sudah di mulai. Hanya kita saja yang tidak sadar dan tidak paham akan fenomena yang terjadi. Manusia dengan paham materialisme dan pragmatismenya seakan lupa akan kehidupan akhirat. Mereka hidup seenaknya tanpa memikirkan dampak buruk terhadap lingkungan.

Apakah kiamat bisa dicegah? Ya, bisa. Meski Alloh Subhanahu wata’ala sudah menetapkan waktunya, tapi tidak ada seorang pun yang mengetahuinya. Maka dari itu, sejak saat ini mari kita ‘cegah’ datangnya kiamat secara tiba-tiba dengan menjaga lingkungan ini. Sayangi alam dan isinya, insyaaLloh Alloh ta’ala pun akan menyayangi kita.

Tulisan ini tidak bermaksud me-‘liberal’-kan tafsir al-Quran, namun Saya hanya berusaha mencoba menangkap informasi dari al-Quran, karena banyak informasi lain yang bisa digali dari al-Quran yang bisa menjadi referensi hidup kita.


Aksi

Information

One response

7 05 2008
* BO

[82:1] Apabila langit terbelah, <<< CAHAYA KOMET

[82:2] dan apabila bintang-bintang jatuh berserakan, <<< PECAHANNYA

[82:3] dan apabila lautan menjadikan meluap, <<< PENGARUH GRAVITASINYA

[82:4] dan apabila kuburan-kuburan dibongkar, <<< KAWAH METEORIT

[81:1] Apabila matahari digulung, <<< UKURAN LEBIH MASSIVE DARI MATAHARI

[81:2] dan apabila bintang-bintang berjatuhan, <<< METEOR SHOWER

[81:6] dan apabila lautan dijadikan meluap <<< GRAVITASI METEOR

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: