Aroma Kristen di Balik Hari Valentine

23 02 2008

Oleh : Fauzi Mushoffa


Valentine Day (Hari Valentine) sudah menjadi tren perayaan cinta di negara kita, negara Indonesia. Para remaja bersuka-ria menyambut kedatangannya dengan berbagai ekspresi yang sangat bertentangan dengan ajaran Islam dan tradisi leluhur kita. Orang-orang dari generasi tua pun, tidak sedikit yang ikut-ikut bergabung, atau minimal membiarkan anak-anak mereka merayakannya dengan hal-hal yang berbau pergaulan bebas. Para remaja kita menghabiskan banyak uang dan waktu untuk memperingatinya, karena menurut mereka hari itu adalah hari untuk mengungkapkan rasa kasih sayang pada orang yang dicintainya.

Asal Mula Hari Valentine


Ada banyak versi tentang Valentine, di antaranya adalah kisah Pendeta Santo Valentinus yang dihukum mati pada tanggal 14 februari 270 M oleh Kaisar Romawi Claudius II karena menentang perintah-perintahnya. Pada waktu itu, kerajaan tersebut sedang gencar-gencarnya melakukan invasi ke kerajaan-kerajaan lain. Claudius II menilai bahwa tentaranya yang belum kawin lebih tabah berperang, sekalipun berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun, daripada mereka yang sudah menikah. Oleh karena itu, raja ambisius ini melarang para pemuda menikah dan memerintah agar menjadi prajuritnya. Namun St. Valentinus yang sedang asyik menjalani percintaannya tidak memperdulikan larangan itu, sekalipun akan berdampak negatif pada dirinya. Dia menikah di gereja dengan sembunyi-sembunyi, tapi hal itu tercium juga oleh Claudius II. Dan akhirnya Valentinuspun ditangkap dan dipenjara. Ketika mendekam di penjara, dia berkenalan dengan putri salah satu petugas yang sedang sakit, lalu dia mengobatinya hingga sembuh dan hatinya terpaut pada perempuan jelita itu. Sebelum dihukum mati, dia mengirim sebuah kartu bertuliskan “dari yang tulus cintanya, Valentinus”.


Menurut versi kedua, St. Valentinus adalah misionaris Kristen yang datang ke Romawi dan mengajak penduduk setempat memeluk agama yang dibawanya. Setelah misi tersebut sampai ke telinga Claudius II dan dianggap akan mengganggu stabilitas kerajaannya, maka Claudius II menangkap dan menjatuhinya hukuman mati.


Sedangkan versi lain menyebutkan, ketika Kristen tersebar di daratan Eropa, di salah satu desa ada sebuah tradisi yang menarik perhatian para pendeta, yaitu setiap pertengahan Februari para pemuda berkumpul dan menulis nama-nama gadis di desa tersebut lalu dimasukkan ke dalam sebuah kotak. Setelah itu masing-masing mereka mengambil satu persatu nama yang telah dimasukkan. Nama gadis yang keluar dari kotak tersebut akan menjadi kekasihnya sepanjang tahun dan saling kirim kartu yang bertuliskan “dengan nama tuhan ibu”.


Akibat sulitnya mengubah tradisi tersebut, maka para pendeta itu memutuskan untuk mengubah kata “dengan nama tuhan ibu” yang sudah mengakar jadi keyakinan dengan kata “dengan nama pendeta Valentine”, sehingga bisa mengikat para pemuda desa itu dengan agama Kristen yang menjadi misi utama para pendeta itu mendatangi daratan Eropa.


Beberapa tahun kemudian, peringatan Valentine Day berkembang pesat seiring dengan pesatnya perkembangan Agama Kristen di Eropa. Kemudian Paus Gelasius mendeklarasikan tanggal 14 Februari sebagai Valentine Day sekitar tahun 498 M. Demikianlah legenda-legenda seputar Valentine Day, meski masih terjadi banyak kesimpangsiuran mengenai hal ini.


 


Di Balik Hari Valentine


Bila merujuk pada sejarah di atas, maka budaya perayaan Hari Valentine sebetulnya adalah salah satu trik dari sekian banyak trik kristenisasi, untuk melepas dan menghancurkan keyakinan kita secara perlahan tanpa kita sadari. Tapi ironisnya, kita yang diperintah untuk mengikuti jejak langkah Rasulullah r kadang juga ikut-ikutan merayakan Hari Valentine, yang sebetulnya dirayakan oleh umat Kristiani untuk mengenang kembali kematian seorang pendeta Kristen yang mati dibalik jeruji besi. Padahal, kita tidak pernah mengingat kematian para tokoh Islam seperti Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, Hamzah bin Abdil Mutthallib, dan lainnya yang mati terbunuh dengan cara yang sadis dan mengenaskan ketika mereka mempertahankan ajaran mulia yang diembannya.


Maka, bagi umat Islam sangat tidak layak ikut-ikutan merayakan Hari Valentine, karena perayaan itu adalah hari raya dan tradisi orang-orang musyrik yang bertujuan untuk mengenang kematian seorang pendeta dan untuk mengikat hati orang-orang yang merayakannya dengan agama kafir. Harus kita ingat bahwa dalam riwayat Abdullah bin Umar,  Rasulullah r pernah menyatakan.


مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ


Artinya : “Barangsiapa menyerupai suatu kaum maka dia termasuk dalam golongan mereka.” (HR Abu Dawud: 3512)


Menurut al-Munawi dan al-Alqami, kata tasyabbaha biqaumin (menyerupai suatu kaum) memiliki arti berhias diri, berperilaku, dan melakukan tradisi sama dengan mereka. Jadi, orang yang meniru suatu kelompok dalam berpakaian, berperilaku, atau melakukan tradisi mereka, maka dia akan mendapatkan dosa yang sama dengan kelompok tersebut, apabila yang ditiru adalah perbutan buruk; dan mendapat pahala yang sama dengan kelompok tersebut, apabila yang ditiru adalah perbuatan baik.


Maka, atas dasar hal ini, kita mesti menerapkan filter yang ketat dalam menerima budaya dan tradisi orang lain. Budaya dan tradisi itu harus diukur dengan ukuran-ukuran syariat. Karena, Islam melarang kita meniru budaya atau menggunakan atribut-atribut yang biasa digunakan oleh orang-orang fasik, apalagi orang-orang kafir.

Sumber: Sidogiri.com


Aksi

Information

12 responses

21 08 2008
SAhaff

Ya, informasi seperti inilah yang harus disebarluaskan kepada seluruh kaum muda Islam yang berjiwa Islam dan Islami agar tidak terkontaminasi oleh ajaran campur aduk dari berbagai agama di luar Islam. Siapa lagi yang akan memikirkan kemurnian Islam kalau bukan kita sendiri yang beragama Islam dan wajib membela kebenaran Islam sampai kapanpun, dimanapun di forum apapun dan di situasi apapun juga.

5 02 2011
putra sohib

gue se7 pnDAPat loe
tapi GMna cRA nya Agar tmen2 yg LaEn pda TAU pa TU Vln TIne

7 02 2009
and1k

SAYA RASA HARI VALENTINE TIDAK USAH TERLALU DI RAYAKAN DENGAN MERIAH. KAN MENGUNGKAPKAN RASA CINTA SEBAIKNYA PADA ORANG YANG BERJASA PADA HIDUP KITA SEPERTI ORANG TUA SAYA RASA ITU LEBIH BAIK DARIPADA KEPADA PACAR YANG BELUM TENTU DIA BERJASA DALAM HIDUP KITA

13 02 2009
Ainsyah

masya allah… indonesiaku, islamku,…tubuhmu makin digerogoti…kuatkan imanmu

1 05 2009
Ayip

KOK JAUH2 MA VALENTINE SIH!!1 LAGIAN namanya kasih sayang setiap hari jam detik juga wajib…, atas dasar valentin kek, maulidan kek, atau ziarah kubur… serah yang penting tidak ….IRHAM MAN FIL ARDI YARHAM MAN FISSAMMA!!!…. RAULULLAH JG MERAYAKAN HARI BESAR UMAT YAHUDI DG BERPUASA… enak emang cari-cari kesalahan orang ya mas he he hhe

28 06 2010
kommabogor

Anda betul. Kasih sayang memang harus dilakukan kapan dan kepada siapa pun. Namun untuk perayaan ‘Valentines Day harus diketahui sejarahnya. Itu saja. Terserah anda mau seperti apa dalam menanggapi sejarah itu.

25 04 2010
t sembiring

kalo anda tidak mau merayakan, tidak apa2. gitu aja koq repot. anda koq eklusif banget. sesuatu yg baik belum tentu berasal dari golongan agama anda saja. kalo anda beranggapan spt itu, nmnya egois. hny anda dan agama anda yg baik: yng lain tidak. naif banget lagi.

28 06 2010
kommabogor

Wah, sabar ya Mas. Janga egois ya.

12 06 2010
dewi

saya setuju dengan pendapat anda. tidak selamanya pendapat qt tu yang paling benar, sebab msh bnyk lagi pandangan orang tentang suatu hal yg menurut qt bener padahal bg mereka itu bertolak belakang. jd orng gk ush naif.

28 06 2010
kommabogor

Semua itu relatif.

15 02 2012
erlina

iya semua itu relatif…. tulisan ini hanya untuk mengingatkan kaum mulsim saja… tidak untuk melecehkan agama lain….

14 02 2012
putra

Saya senang kalau memang valentine di katakan beraroma kristen.
Karena memang kristen menganggap kasih sebagai salah satu hal utama suatu ucapan syukur kepada Tuhan. Bersyukur juga apabila ada hari dimana diingatkan kembali mengenai hal itu . Dan kalau memang orang kristen yang takut akan Tuhan pastilah dia akan menyambut hari itu dengan hal yang positif dan membangun antar sesama. Bukan untuk berzinah.
Saya merasa hal valentine yang tidak begitu penting bagi saya dibandingkan untuk memberantas ajaran yang mengatasnamakan islam yang suka ngebom dan melarang agama lain untuk beribadah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: