Nabi Palsu Ahmad Sayuti diperiksa

10 02 2008

Nabi Palsu Polisi Diperiksa

Kamis, 07/02/2008 : BANDUNG(SINDO) – Muhammad Sayuti alias Ahmad Sayuti, 77, pria yang mengaku sebagai nabi terakhir dalam dua buku karangannya diperiksa di Mapolsekta Regol,Jalan Moch Toha,kemarin.

Lelaki kelahiran Singaparna,Kab Tasikmalaya, 1931 ini, dijemput polisi dari kediamannya di Jalan H Samsudin, Kel Ciateul,Kec Regol,Kota Bandung, sekitar pukul 13.30 WIB. Sayuti diperiksa di Ruang Unit IV oleh dua penyidik. Dengan mengenakan kemeja krem dan celana cokelat, Sayuti tampak santai menjawab pertanyaan penyidik.

Pertanyaan yang diajukan pun berkisar dua buku karangannya yang dinilai telah menodai agama. Penyidik sempat terlihat bingung karena jawaban yang dikemukakan Sayuti terkesan berbelit-belit.

”Kalau Anda mengaku sebagai nabi, saya ingin tanya, pada tahun 2010, seperti apa kondisi Indonesia? Apakah tetap ada atau terpecah-pecah. Anda kan nabi, pasti tahu,” tanya penyidik kepada Sayuti. Mendengar pertanyaan tersebut,Sayuti mengaku tidak tahu.Penyidik pun kembali bertanya mengenai keyakinan Sayuti yang mengaku sebagai nabi terakhir setelah Rasulullah Muhammad SAW.

Selama 5,5 jam,Sayuti dimintai keterangan. Akhirnya, sekitar pukul 18.00 WIB, pemeriksaan pun selesai. Begitu keluar dari ruang pemeriksaan, dia terlihat lemah hingga harus dibopong oleh dua orang.Kepada wartawan yang menunggunya, Sayuti mengaku,dirinya tidak mempercayai ajaran Alquran.

”Isi yang terkandung dalam Alquran bukanlah firman yang diturunkan Allah, melainkan cerita Nabi Muhammad,” kata Sayuti. Dia menilai,selama ini kesalahan dalam Alquran menjadi penyebab utama terpecah belahnya umat Islam.Dia pun mengaku mampu menyatukan kembali umat Islam yang terpecah tersebut.

”Saya prihatin melihat umat Islam saling gontok-gontokan. Saya ingin menyatukan kembali umat yang terpecah belah itu,” ujar Sayuti yang terlihat membawa buku tebal. Kanit Reskrim Polsekta Regol AKP Aji Santoso mengungkapkan, hasil pemeriksaan tersebut akan dilaporkan ke PolwiltabesBandunguntuk menentukan status Sayuti berikutnya.

”Jadi, menjadi tersangka atau tidaknya semua tergantung dari Polwil. Saya hanya baca di koran kalau ada aliran sesat,maka saya tindak lanjuti dengan meminta keterangan dari beliau,” ujar Aji kepada wartawan. Diberitakan SINDO sebelumnya, seorang tukang cukur bernama Mohammad Sayuti atau Ahmad Sayuti mengaku sebagai nabi terakhir.

Hal tersebut ditemukan dalam dua buku karangannya berjudul Kelalaian Para Pemuka Agama dalam Memahami Kitab-Kitab Peninggalan Nabi-Nabi Rasul Allah (Taurat, Injil,dan Alquran) dengan Segala Akibatnya, dan buku berjudul Mungkinkah Tuhan Murka.

Menurut Wakil Ketua PW Persis Jabar Rahmat Nadjieb, kedua buku tersebut telah memutarbalikkan fakta dan kebenaran. Berdasarkan hasil penelitian, kata Rahmat, Ahmad Sayuti menganggap dirinya sebagai nabi yang diutus Allah dan Nabi Muhammad bukan nabi terakhir.

”Ini jelas sebuah pemutarbalikkan fakta,”kata Rahmat. Lebih lanjut Sayuti mengaku menerima wahyu pada Jumat malam di tahun 1993. Wahyu tersebut diterimanya lewat mimpi. ”Saya bermimpi. Dalam mimpi tersebut saya menerima wahyu. Sampai sekarang pun saya masih sering menerima wahyu,” kata Sayuti saat ditemui wartawan di kediamannya sebelum dijemput polisi pagi kemarin.

Berdasarkan keyakinan atas wahyu yang diterimanya tersebut,Sayuti mengaku hanya cukup menjalankan salat dua kali dalam sehari, yaitu magrib dan subuh.Selain itu, dia juga mengganti bacaan salat, kecuali surat Al Fatihah. Sebelum menerima wahyu, menurut Sayuti, dirinya memang kerap mempelajari Alquran termasuk terjemahannya, baik dalam bahasa Sunda maupun Indonesia.

”Saya sudah pernah berdiskusi dengan ulama dari NU, Muhammadiyah, dan Persis, tapi tidak ada yang bisa menjawab kegelisahan saya. Akhirnya saya memutuskan mempelajari sendiri. Jadi, Alquran yang dibaca sekarang itu bukan firman Allah, melainkan perkataan Nabi Muhammad putra Abdullah. Saya juga belum sempat menyebarkan keyakinan ini,” kata Sayuti.

Sayuti menambahkan, setelah menerima wahyu tersebut, dirinya hanya berdoa dan beribadah menurut keyakinan yang dianutnya. Dia juga mengaku sempat memberikan ceramah di daerah Srimahi, Kota Bandung, tetapi ditentang masyarakat setempat.” Waktu itu, dalam ceramah saya katakan kepada mereka bahwa Alquran yang dibaca itu bukan firman Allah, tapi Muhammad putra Abdullah,” tandas Sayuti.

Sayangnya, Sayuti enggan menjelaskan lebih lanjut mengenai dua buku yang ditulisnya. Dia hanya mengatakan, buku tersebut diterbitkan dengan biaya sendiri,tanpa merinci berapa biaya yang sudah dikeluarkannya. ”Saya mencetak buku itu dengan biaya sendiri dan tidak disebarluaskan kepada umum,hanya kepada keluarga besar saja,”kata Sayuti.

Sayuti sendiri tidak pernah memaksakan keyakinannya kepada keluarga, termasuk istrinya,Oja,70.Menurut Oja, suaminya hanya menyebarkan buku tersebut kepada keluarga besar dan tidak untuk umum. Oja menegaskan, dua buku karangan suaminya dicetak di Bandung sebanyak 150 dan 200 eksemplar. Namun, Oja mengaku tidak tahu di mana buku itu dicetak.

”Itu pun tidak disebar untuk umum, tapi hanya lingkungan keluarga besar saja,” kata Oja.Namun,saat ditanya mengenai keyakinan suaminya yang dinilai aneh, Oja tidak menjawab. Dia langsung masuk ke dalam rumahnya yang berukuran sekitar 6×12 meter. Bambang,35,menantu Sayuti mengaku tidak bisa memberikan komentar apaapa mengenai dua buku yang dikarang Sayuti, termasuk keyakinan mertuanya tersebut.

Sebab, kata Bambang, persoalan tersebut sudah menyangkut akidah masingmasing. Selain itu,Sayuti juga tidak pernah memaksakan keyakinannya pada orang lain, bahkan kepada anakanaknya sendiri. ”Bapak (Sayuti) tentu punya keyakinan mengenai agamanya, saya juga punya keyakinan. Tapi, dari dulu bapak memang suka diskusi soal agama. Selama ini,omongan bapak kami anggap sebagai nasihat orangtua terhadap anak-anaknya,” kata Bambang.

Di mata tetangganya, Sayuti dikenal sebagai sosok yang baik. Seorang warga yang enggan disebutkan namanya mengatakan, selama ini Sayuti tidak pernah berbuat ulah, terutama mengenai keyakinannya.

”Selama ini saya tidak tahu kalau ternyata dia mengaku sebagai nabi baru,”katanya. Farhan Kamaludin, tetangga lainnya mengatakan, Sayuti sempat menolak membaca dua kalimat syahadat. Informasi tersebut, kata Farhan, diperolehnya dari adik Sayuti,almarhum Kostaman, pada sekitar 1996-1997. Saat itu,Sayuti diminta membacakan kalimat syahadat oleh seorang tokoh agama di Bandung, Mahyudin Syaf, tetapi dia menolaknya.

”Sayuti menolak membacakan dua kalimat syahadat karena dirinya mengaku sudah didatangi malaikat Jibril dan mengangkat dirinya menjadi nabi terakhir. Beberapa bulan kemudian, Mahyudin Syaf meninggal dunia. Kepada adiknya,Sayuti sempat mengatakan: Tuh kan, garagara menyuruh saya membaca kalimat syahadat, dia meninggal dunia,”kata Farhan.

Dia menambahkan, tetangga juga sudah mengetahui bahwa Sayuti mengaku sebagai nabi.Namun,mereka tidak tahu ternyata Sayuti sudah menerbitkan dua buku yang isinya mengangkat dirinya sebagai nabi. Menurut dia,hubungan keluarga Sayuti dengan tetangga baik-baik saja dan tidak dikucilkan.Namun, tetangga jarang merespons perkataan Sayuti.

”Tahun 1993, Sayuti sebenarnya merupakan salah satu khatib Jumat di Masjid Al Jihad yang berada di lingkungan warga.Namun,setelah dia mengaku-aku sebagai nabi, Sayuti tidak pernah dipakai lagi sebagai khatib. Dalam tiga tahun terakhir ini, saya juga tidak pernah melihat dia memberikan ceramah Jumat di Masjid Al Jihad.Tapi tidak tahu kalau di masjid lain,” kata Farhan.

Wahyu dalam Bahasa Sunda
Dalam buku pertamanya yang berjudul Kelalaian Para Pemuka Agama dalam Memahami Kitab-Kitab Peninggalan Nabi-Nabi Rasul Allah (Taurat, Injil,dan Alquran) dengan Segala Akibatnya, Sayuti mengaku menerima wahyu dalam bahasa Sunda pada 1993. Hal tersebut dia tulis pada halaman sembilan buku setebal 42 halaman tersebut. ”Dan Alquran diturunkan kepada saya tahun 1993,umur saya pada waktu diturunkan Alquran adalah 62 tahun.Dan Alquran ditakdirkan Allah diturunkan kepada saya setelah dimudahkan (diterjemahkan), dengan bahasa Sunda dan bahasa Indonesia,” tulis Sayuti dalam bukunya.

Kemudian, pada paragraf selanjutnya, Sayuti menuliskan kebingungannya. ”Setelah kitab Taurat dan Injil kemudian Alquran diturunkan dan diwahyukan Allah kepada saya,mula-mula hati dan pikiran saya jadi bimbang tidak karuan dan apalagi namanya saya tidak tahu,”tulisnya.

Dia kemudian memutuskan pergi ke kampung menemui seorang ulama yang cukup terkenal dan akrab.Namun, ulama tersebut malah terheran-heran.

”Kepada siapa saya harus bertanya,karena apa-apa yang telah diturunkan kepada saya bertentangan dengan apa-apa yang saya peroleh dari beberapa ulama, dari beberapa golongan dan bahkan bapak saya sendiri,” tulisnya di halaman 10. Mengenai pengakuan dirinya sebagai nabi,ditulis Sayuti di halaman 11 buku tersebut.

”Jadi jelas bahwa nama Muhammad nabi yang ummi yang namanya tertera di dalam Alquran adalah saya bukan beliau, beliau salah seorang di antara rasul-rasul yang dilebihkan Allah.Menurut beliau, bagi tiap-tiap umat ada seorang rasul, apabila datang rasul kepada mereka, mereka dihukum dengan adil tanpa kekerasan,”tulisnya. (gin gin tigin ginulur/ irvan christianto/sindo)


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: