Catatan Akhir Pekan ke-4: Selamat Jalan Pak Harto…,

27 01 2008

Oleh: Muhammad “Yudin” Taqiyuddin

Ahad (27/1) siang ini Saya di-sms oleh teman Saya. Isinya: “Pak Harto meninggal dunia”. Sejenak lidah Saya berucap “inna lillahi wa inna ilaihi roji’un.” Padahal Rabu (23/1) lalu Saya mengikuti Dialog Nasional kepemudaan di UIN Jakarta, bersama Sutiyoso (Mantan Gubernur DKI Jakarta), DR. Bima (Dosen Ilmu Politik Universitas Paramadina), Sys Ns (Ketua Umum DPP Partai NKRI), dan Pendeta Nathan Setiabudi (Mantan Ketua Umum PGI). Dalam kesempatan dialog itu, kaum muda diminta untuk tetap mempertahankan komitmen untuk menuntut Soeharto agar tetap diadili. Namun apa daya, kini jenderal besar itu sudah tiada.

Dede Yusuf, aktor juga politikus PAN, mengatakan, para petani di Bandung merasa sedih dan kehilangan Bapak Pembangunan dan Pertanian di masa Orde Baru. “Para petani langsung menangis dan bersedih. Mereka merasa kehilangan. Menurut mereka, Pak Harto dianggap sebagai pemimpin yang baik. Terlepas dari hiruk pikuk pro kontra mengenai Pak Harto, beliau sudah membuktikan mampu menjalani tugas-tugas dengan baik,” jelas aktor ini.

Pak Harto juga manusia. Itu yang harus kita katakan. Sebagai manusia, kita tidak lepas dari rasa salah dan hilaf. Sekali pun Pak Harto memiliki banyak kesalahan, toh Mbak Tutut (sulung Pak Harto) sudah memohon ma’af. Adapun ‘kasus kejahatan’ hukum yang kini sedang disidangkan secara perdata di pengadilan, harus tetap berjalan. Ma’af boleh saja, namun di antara rakyat Indonesia ada yang tidak menerima perlakuan ‘kejahatan’ Soeharto saat berkuasa.

Catatan Akhir Pekan (CAP) ini, Saya hanya berusaha menengahi antara kedua pihak yang memaafkan Pak Harto dan yang tetap menuntut Pak Harto. Pak Harto sudah tiada. Urusan kesalahan dan dosa-dosanya diserahkan kepada Allah Swt. Benar dan salahnya hanya Sang Maha Kuasa yang mengetahuinya. Kita manusia yang hidup di dunia, silakan mendoakan dan memaafkannya. Bagi Anda, Saya, mereka, dan siapa saja para korban kejahatan Orde Baru, yang masih memiliki dendam terhadap almarhum, sebaiknya berusaha meredamnya, toh Pak Harto tidak bisa dituntut di dunia. Bila tetap dendam, silakan Anda menuntutnya melalui pengadilan melalui pengadilan perdata.

Episode hidup ini memang tidak diam. Soeharto telah pergi tinggalkan beribu misteri dan masalah. Semoga misteri itu cepat terungkap. Sebagai muslim yang baik, mari kita do’akan almarhum Pak Harto agar mendapat balasan sesuai amalnya. Amiin.


Aksi

Information

One response

19 05 2008
Mr.Nunusaku

Soeharto sudah menerima kutukan Allah mati dakam kesngsaraan karena dosa perbuatan telah membunuh rakyatnya sendiri 3 juta telah dibantai oleh soeharto termasuk umat islam turut dibantai seperti binatang.

Kepergian Soeharto meninggal sejarah yang paling buruk bagi genarasi penerus bangsa Indonesia, ini sebagai pelajaran bagi pemimpin bangsa ini harus memimpin dengan kejujuran dan membelah yang lemah yang tertindas dalam penguasa Orde baru, Segala peristiwa mennjadi cermin apa yang dilakukan oleh Ordebaru dengan mantan diktaktor Soeharto tidak akan terulang kembali.

Hak untuk memaafkan soeharto itu terpulang pada hati bangsa Indonesia itu
sendiri, mau memaafkan selakan…, mau dendam sampai tuju turunan itu hak mereka. Diibarakat tangan yang tergores dengan parang yang mendalam,
walupun akan sembuh sekalipun, tetap ada pekasnya goresan parang itu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: