Catatan Akhir Pekan Pekan ke 2: Belajar memaafkan

13 01 2008

Oleh: Muhammad “Yudin” Taqiyuddin

Ketika Saya menulis catatan akhir pekan(CAP) edisi pertama (4/1), sore harinya Saya lihat di stasiun-stasiun televisi swasta memberitakan mantan Presiden RI Soeharto. Pak Harto (PH), demikian panggilan akrab beliau, kembali dilarikan ke Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP). Kondisi kesehatan PH sangat kritis; tubuhnya kemah dan membengkak karena penumpukkan cairan. Hingga saat Saya menulis kembaliCAP edisi kedua, kondisi PH sebagaimana diberitakan Kompas Cyber Media, masih berada pada level sangat kritis. Semoga beliau diberi ketabahan dalam menjalaninya. Amiin.

Mengawali CAP kedua ini sengaja Saya mengangkat berita kondisi PH. PH bagi masyarakat Indonesia yang pernah dipimpin olehnya pasti merasakan bagaimana keadaan negeri ini. Ada yang merasakan senang, dan ada pula yang merasa tertindas. Bagi sebagian mantan tahanan politik di masa Orde Baru, mereka masih menyimpan dendam membara kepada Bapak Pembangunan itu. Sekritis apa pun PH sakit, mungkin mereka belum memeaafkan kesalahan. Padahal bila kita mau flasback ke belakang, selama 32 tahun PH memimpin negeri ini, lebih banyak baiknya dari buruknya. Meskipun ada kekurangan dan keburukan, kita bisa melihatnya secara arib dan objektif.

Sebagai manusia beragama dan memiliki peradaban, sebaiknya kita belajar memaafkan terhadap kesalahan. Sebesar kesalahan yang dilakukan oleh PH, toh ada baiknya juga. Ingatkah kita kepada kisah ketika Nabi Muhammad Saw dilempari batu oleh penduduk Thaif, kemudian Jibril menawarkan kepada Nabi untuk melemparkan gunung kepada penduduk Thaif ?. Apakah Rasul Allah mengijinkan tawaran Jibril itu? Apakah Nabi dendam kepada penduduk Thaif?. Jawabnya, Tidak.

PH adalah manusia biasa seperti kita. Dia bisa salah, juga bisa benar. Sebagai manusia yang memiliki rasa kemanusiaan, kita harus memaafkannya. Sebagai warga negara yang ernah dirugikan, silakan saja menuntut beliau, tapi dalam kasus perdata. Bukan pidana.

Dalam keseharian kita, memaafkan adalah persoalan yang mudah dalam teori, susah dalam praktik. Kita selalu gengsi, malu, dan khawatir dianggap ‘pecundang’. Memaafkan harus didasarkan pada nilai-nilai kemanusiaan, karena manusia tidak luput dari kesalahan. Bisa jadi kita berada di pihak yang salah, atau mungkin sebaliknya. Kasus seperti PH ini bisa jadi menimpa kita. Jika kita seperti PH, mungkinkah orang lain memaafkan kita? Maka dari itu, mulailah dari sekarang untuk sedikit demi sedikit belajar memaafkan kesalahan orang lain. Kesalahan dan dosa hakikatnya Allah yang akan membalasnya.


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: