Catatan Akhir Pekan: Banjir lagi, banjir lagi!

4 01 2008

Memasuki pekan awal di tahun 2008, nasib masyarakat Indonesia tidak mengalami perbaikan. Sejak awal Nopember 2007, banjir kembali melanda kawasan Jakarta utara. Banjir yang terjadi tepatnya di Muara Baru, Jakarta Utara itu, bukan disebabkan hujan atau banjir kiriman dari Bogor. Banjir itu disebabkan jebolnya tanggul di pinggiran laut di Jakarta. Tanggul itu terbuat dari tembok atau beton yang ditata sedmeikian kuat untuk menahan air laut.

Betapa pun hebatnya bahan cor-an tanggul itu, tetap saja jebol. Kenapa ini terjadi? Sebenarnya tanggul yang permanen dan mampu menahan gelombang pasang air laut ialah hutan bakau. Namun saat ini, hutan bakau di pesisir pantai Jakarta hampir musnah. Suatu waktu, Saya pernah mengitari daerah pesisir pantai di Jakarta Utara. Di sana hutan bakau sudah disulap menjadi pemukiman penduduk yang terbilang mewah, gedung perkantoran yangmenjulang tinggi, dan tempat hiburan yang menjanjikan banyak sensasi. Inilah ulah kejahilan tangan manusia.

Memasuki awal Desember, banjir tidak hanya terjadi di pinggiran Jakarta Utara dan Jakarta Barat, yang memang kebetulan berdekatan dengan daerah laut. Musim hujan sudah memasuki bulan di penghujung tahun 2007. Bogor sebagai maskot kota hujan pun tak henti-hentinya diguyur hujan. Alhasil, menjelang pergantian tahun dari 2007 ke 2008 pun dimeriahkan oleh guyuran hujan dan luapan banjir.

Catatan akhir pekan di awal Januari 2008 ini, mengulas wajah buram Indonesia yang selalu dilingkupi musibah; termasuk banjir.

Mengamati pemberitaan di media cetak dan elektronik, tak henti-hentinya membahas banjir. Kompas, Republika, dan Koran SINDO secara berturut-turut memuat headline banjir di Jakarta, Jawa Tengah, dan sebagian wilayah Sumatera. Banjir yang dialami sebagian besar masyarakat Indonesia tahun ini hampir merata. Wajar bila pulau Jawa tak luput dari ‘serangan’ banjir, karena aliran sungai dan sanitasi di pemukiman tidak lagi mampu memuat alirang air. Hutan dan daerah serapan banjir pun tak lagi dapat diandalkan. Seorang teman di pemukiman Cimanggis, Depok, pernah bercerita, di sana ada komplek perumahan baru yang sebenarnya adalah lahan khusus serapan banjir. “Gila tuh pengelolanya. Masak (lahan) resapan banjir mau dijadiin perumahan?! Rumah Saya pasti kena banjir deh.” ujar teman Saya itu.

Daerah lain yang tak luput dari musibah banjir ialah Karang Anyar, Jawa Tengah. Daerah ini dilanda banjir akibat luapan sungai di Bengawan Solo. Bahkan, banjir pun meluas ke daerah Lamongan. Di sana, puluhan rumah hancur, belasan lainnya terbawa arus, persawahan terendam, belasan masjid pun tak bisa digunakan untuk beribadah. Sungguh memprihatinkan.

“Banjir lagi, banjir lagi!” Inilah sebuah gerutu dan cemoohan warga di Cililitan yang terlanda banjir di awal pekan ini. Seharusnya mereka, para korban banjir –mungkin termasuk kita– bercermin dan mengevaluasi, apakah penyebab semua ini? Apakah hanya karena gelombang pasang laut semata? Guyuran hujan yang begitu deras? Atau, menyalahkan dataran tinggi, dalam hal ini Bogor, sebagai ‘narasumber’ banjir?

Sebagai manusia berakal yang berpikir rasional, memang banjir disebabkan oleh hujan. Namun pertanyaannya, kenapa hujan tidak mengenal musim dan waktu seperti dulu kala? Saya masih ingat ketika SD. Kata guru Saya, nama-nama bulan masehi itu sesuai dengan musimnya. September hingga Januari itu musim hujan, karena ada kata akhiran -ber, dan ada kata awalan Jan-. Saat itu Saya berpikir, mungkin ada benarnya juga. Tapi saat ini pikiran itu tidak terpakai. Hujan bisa terjadi kapan saja seenak ‘dewek’nya.

Hujan terjadi kapan saja adalah wujud dari tidak tentunya musim. Musim selalu berubah disebabkan pemanasan global atau istilah kerennya ‘Global Warming’. Pemanasan global ialah meningkatnya temperatur rata-rata atmosfer, laut, dan daratan bumi .Para ilmuan memperkirakan bahwa selama pemanasan global, daerah bagian Utara dari belahan Bumi Utara (Northern Hemisphere) akan memanas lebih dari daerah-daerah lain di Bumi. Akibatnya, gunung-gunung es akan mencair dan daratan akan mengecil. Akan lebih sedikit es yang terapung di perairan Utara tersebut. Daerah-daerah yang sebelumnya mengalami salju ringan, mungkin tidak akan mengalaminya lagi. Pada pegunungan di daerah subtropis, bagian yang ditutupi salju akan semakin sedikit serta akan lebih cepat mencair. Musim tanam akan lebih panjang di beberapa area. Temperatur pada musim dingin dan malam hari akan cenderung untuk meningkat. Ini semua akibat kejahilan tangan manusia. Pemanasan global terjadi karena feke rumah kaca.

Sementara itu, bila hujan selalu turun dengan deras dan tiada henti-hentinya, maka seharusnya kita mengantisipasinya dengan pembersihan aliran sungai dan sanitasi. Tapi, faktanya sungai sepanjang Ciliwung pun seakan tak terurus. Bahkan, seperti cerita teman di Depok, tadi, lahan serapan air pun dijadikan pemukiman. Jika demikian, akankah Indonesia bebas banjir? Atau akan seperti perkiraan sebagai ahli, bahwa 2070 nanti, pulau-pulau di Indonesia akan terendam? Mudah-mudahn kita tidak ‘Banjir lagi, banjir lagi!’

Semoga.


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: