HILANGKAN PERSELIRIHAN, SEJATERAKAN MASYARAKAT; MENUJU MASYARAKAT ISLAMI YANG SEJAHTERA

31 12 2007

Oleh: Muhammad “Yudin” Taqiyuddin

Pasca Orde Baru runtu, Orde Reformasi pun muncul. Kebebasan seakan sudah menjadi hal biasa. Bebas dalam berpendapat, bebas dalam bergaul, bebas dalam berkelompok, bahkan bebas dalam berkeyakinan. Ternyata kebebasan itu disalah-artikan oleh berbagai kalangan, termasuk kalangan agamanawan dan pemikir.

Banyak di antara agamawan yang menafsirkan bahwa kata bebas ini adalah bebas absolut, mutlak, tanpa batas. Sama halnya dengan pemikir. Golongan ini berbuat seenaknya berpikir hingga di luar batas moral manusia. Mereka berpikir hingga keluar dari norma-norma agama dan norma kesusilaan di Indonesia.

Salah satu bukti nyata dari bentuk kebebasan itu ialah bebasnya penyebar atau misionaris agama ke dalam negeri. Adalah Wahhabi yang ditunggangi oleh kerajaan Arab Saudi yang berani dengan terang-terangan menyebarkan pemikirannya. Dengan berkedok Ahlussunnah Waljama’ah mereka berdakwah kepada seluruh lapisan masyarakat, terutama kepada mereka yang memiliki kedangkalan dalam pemahaman agama. Dengan mudahnya mereka menyesatkan umat Islam lainnya, yang, pada dasarnya tidak bertentangan dengan Rukun Islam dan Rukun Iman. Padahal mereka, yang mereka sesatkan, menjalankan shalat, puasa, zakat, sunnah-sunnah Rosul, dan ibadah lainnya yang jelas-jelas shahih. Namun apa yang mereka (baca: Wahhabi) lakukan? Terhadap segala perbedaan (khilafiyah), dengan tegas mereka katakan ‘sesat’, karena menurut mereka perbuatan inovasi (bid’ah; mengada-ada) adalah sesat dan tidak dicontohkan Rosululloh Saw.

Sebagai umat Islam, seharusnya menjaga keserasian dan keharmonisan antarumat. Kita semua adalah saudara seaqidah. Janganlah saling menyesatkan. Meskipun di antara kita terdapat perbedaan yang bersifat furu’iyah (cabang), seperti tahlilan, ziarah kubur, tawassulan, tasawuf, dan maulidan, itu semua bisa didialogkan. Yang terpenting di antara kita sama-sama meyakini Alloh sebagai Ilah, Robb, dan Khaliq; serta Nabi Muhammad Saw adalah utusan Alloh yang membawa ajaran-ajaran dan syari’at dari-Nya.

Janganlah kita menghabiskan energi untuk memperdebatkan masalah di atas. Lihatlah, saat Islam diadu-domba oleh orientalis dan zionis kafir Nashrani-Yahudi. Mereka memanfaatkan kelemahan ini untuk menghancurkan Islam. Apabila terdapat perbedaan, biarkanlah, karena itu semua dari Rosul. Sahabat yang mendapatkan pengajaran pun tidak satu, mereka banyak. Maka tidak heran bila terdapat banyak redaksi dalam setiap hadits, atau terdapat perbedaan cara yang diajarkan Rosul dan dalam berbagai kesempatan. Bila suatu ketika Rosul membaca Qunut dalam Shubuh, mungkin saat itu sedang mendawamkannya. Sebaliknya, jika beliau tidak membacanya, mungkin saat itu pula ia sedang tidak melaksanakan sunnah (yang berarti kebiasaannya).

Saudara-saudaraku, bila ada orang/pengikut Nahdlatul ‘Ulama (NU) yang melihat shalatnya orang Wahhabi yang menggerak-gerakkan jari telunjuknya ketika tasyahhud (tahiyyat), maka biarkan saja, mungkin itu ilmu dan keyakinan tentang shalat yang mereka peroleh.Sebaliknya, bagi Wahhabi yang melihat orang NU yang shalat denganmembaca Qunut, maka biarkanlah. Tidak perlu menyebutnya sesat di hadapan publik. Kalau menurut Antum (yang Wahhabi), itu sebagai bid’ah dan sesat, ya silahkan, tapi cukup di hati Antum, karena itu kepercayaan antum.

Berbeda perkara dengan aliran yang dianggap sesat seperti Al-Qiyadah, Komunitas Lia Eden dan Ahmadiyah. Mereka jelas berlawanan dengan pemahaman Islam yang disepakati Ulama. Kalau mau berbicara kebebasan beragama dan menjalankan keyakinan yang diatur Negara Republik Indonesia, maka keyakinan agama Islam yang diatur dalam Negara pun sudah baku, yaitu: Tuhannya Allah, Nabi terakhirnya Nabi Muhammad Saw, dan Alquran Kitab sucinya. Bila bertentangan dengan itu semua, maka mereka dianggap sesat-menyesatkan. Terhadap mereka yang jelas-jelas sesat secara aqidah, harus ditindak tegas, namun tanpa kekerasan.

Mari kita ciptakan Islam yang sejahtera, selamat, dan penuh kedamaian sesuai dengan namanya. Hilangkan semua perselisihan. Mari kita fokuskan pikiran kita untuk menyelesaikan permasalahan keummatan. Masih banyak umat Islam yang berada di bawah garis kesejahteraan. Mereka rawan terhadap pemurtadan. Mereka harus dijaga, dilindungi, dan dibela. Mari ciptakan masyarakat Islami yang sejahtera. Lebih baik kita ciptakan masyarakat yang Islami daripada masyarakat mayoritas muslim tapi tidak Islami. Dengan demikian negeri ini menjadi baldatun thayyibatun wa robbun gofuur; negeri yang baik dan penuh ampunan dari Tuhan. Amiin.


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: