Mewaspadai Aliran Sesat

22 12 2007

Oleh: Muhammad “Yudin” Taqiyuddin

[Sekjen KOMMA]

Pasca Idul Fitri 1428 H, umat Islam di Indonesia dihebohkan dengan pe-ngakuan seorang manusia biasa se-bagai rosul Alloh dengan gelar al-Masiih al-Maw’ud. Pengakuan itu dilakukan oleh Abu Salam alias Ah-mad Mushaddeq, mantan pelatih bu-lu tangkis di Jakarta. Menurutnya, wahyu dan petunjuk sebagai rosul ia peroleh setelah melakukan perseme-dian selama 40 hari dan 40 malam di tempat persemediaan di belakang villa yang ia sewa di daerah Gunung Bunder, Pamijahan, Bogor.

 

Aliran yang dibawa oleh Muhaddeq bernama al-Qiyadah. Ternyata aliran al-Qiyadah ini sudah berdiri sejak tujuh tahun lalu, bahkan pihaknya mengakui telah mempunyai peng-ikut sebanyak ratus ribuan orang da-ri berbagai daerah. Mayoritas dari pengikutnya itu berasal dari kala-ngan remaja dan mahasiswa. Penye-bab banyaknya pengikut aliran ini ialah karena Mushaddeq dan para petingginya menjanjikan motor bagi setiap orang yang membawa 40 orang anggota baru dan sebuah mobil bagi setiap orang yang mem-bawa 70 orang anggota baru.

 

Maraknya aliran-aliran sesat terse-but bukan terjadi saat ini saja. Satu tahun lalu kita masih teringat dengan adanya pengakuan isteri ma-laikat Jibril, –bahkan menurut pen-dapat lain mengatakan nabi—oleh seorang wanita yang bernama Lia Aminuddin atau dengan nama pouler Lia Eden. Bila Mushaddeq menamai alirannya dengan nama al-Qiyadah, namun Lia dengan nama Kerajaan Tuhan. Spontan saja saat itu banyak warga di sekitarnya dan umat Islam di Indonesia yang merasa terganggu dengan keberada-annya.

 

Tidak hanya Mushaddeq dan Lia, ada satu aliran besar lagi yang pernah dianggap sesat oleh umat Islam dan Majelis Ulama Indonesia (MUI). Aliran itu ialah Ahmadiyah. Aliran ini dianggap sesat karena jelas mengakui adanya nabi setelah nabi Muhammad Saw.

 

Penyebab Aliran Sesat

 

Mencermati maraknya aliran-aliran sesat tersebut menurut Penulis seba-gai kewajaran, karena disebabkan beberapa sebab.

 

Pertama, banyaknya umat Islam yang memiliki kelemahan ilmu aga-ma, sehingga mereka jauh dari agama. Orang-orang seperti ini akan mudah terbawa oleh aliran apa saja, apalagi bila ajaran itu dianggap mudah, praktis dan menjanjikan hadiah.

 

Kedua, minimnya perhatian dari organisasi-organisasi masyarakat (ormas) Islam. Sejak 2004 lalu banyak ormas Islam yang menerjun-kan diri ke politik, sehingga tugas mereka hanya melulu di politik. Mereka lupa terhadap ummat dan pengikutnya, akhirnya para anggota ormas dan pengikutnya beralih ke aliran dan organisasi lain yang sudah jelas sesat.

 

Ketiga, berkurangnya perhatian para tokoh ulama dan tokoh masyarakat. Saat ini bukan saatnya lagi meribut-kan masalah qunut, tahlil ataupun ziarah. Banyak ulama, kyai ataupun ustadz yang mempermasalahkan hal-hal furu’iyyah (cabang) tersebut. Selama rukun Islam, rukun Iman serta aqidahnya benar, maka mereka tetap saudara seaqidah. Akibat dari banyaknya mempermasalahkan hal-hal kecil itu, para ulama melupakan masalah aqidah. Walaupun berbeda, kita tetap tasamuh (toleransi), saling menghormati selama mereka tidak mengganggu. Bagi ulama dan kyai, seharusnya menyampaikan dakwah dengan sejuk dan menentramkan, jauh dari sikap mencaci sesama saudara dan seagama, sebab itu akan memunculkan kebencian dan per-musuhan.

 

Keempat, minimnya perhatian pe-merintah terhadap berbagai masa-lah. Pemerintah melalui Departemen Agama (Depag) seharusnya mem-berikan pembinaan, penyuluhan dan pengarahan keada masyarakat, khu-susnya yang berada di pedalaman. Depag harus teliti dalam menyeleksi proposal pendirian majelis taklim, masjid, madrasah, organisasi, atau lainnya, sebab saat ini banyak masjid yang berdiri namun banyak di antara pemikiran mereka yang radikal (keras) dengan mudah menganggap sesat orang lain, padahal sama saja aqidahnya.

 

Standar kesesatan

 

Pada Musyawarah Nasional MUI 6 Nopember 2007 lalu, MUI memiliki 10 standar kesesatan, di antaranya berbeda rukun iman dan rukun islam, mengakui adanya nabi, dan mencela nabi Muhammad. Berarti, selama rukun iman, rukun islam dan aqidahnya sama, maka mereka tetap Islam.

 

Sasaran empuk aliran sesat

 

Sebagaimana diungkapkan di atas, mayoritas pengikut al-Qiyadah ialah remaja dan anak sekolah. Bahkan, di Bandung terdaat aliran al-Quran suci yang mengakibatkan dua orang mahasiswa politeknik di Bandung tidak pernah pulang ke rumah orang tuanya.

 

Mencegah lebih baik daripada me-ngobati. Kalimat itu pantas kita jadi-kan renungan. Sebelum terjadi dan terbawa ke dalam kesesatan, maka mencegah lebih baik. Mencegah dengan cara memperbanyak ilmu pengetahuan keagamaan dan umum. Hindari dari rasa permusuhan antar sesama, meskipun berbeda agama. Waspadalah terhadap bacaan-baca-an yang belum tentu jelasnya, apa-lagi jika bacaan/buku itu gratis. Se-lain itu, sebagai umat Islam sebaik-nya memperbanyak amal ibadah, baik ibadah ritual kepada Alloh mau-pun ibadah sosial kepada se-sama.

 

 

Komunitas Muslim Muda Alfikr (KOMMA) adalah salah satu di an-tara tempat untuk menimba ilmu keagamaan dan umum bagi kaum muda. KOMMA hanyalah wadah pe-mikiran kaum muda yang berpaham moderat, berpegang teguh pada kon-sep ulama Ahlussunnah wal jama’ah. Bahkan, KOMMA mempunyai target agar setiap anggota bisa menghafal al-Quran dan Hadits dari kitab ha-dits Arba’in Imam Nawawi. Semoga kita semua bisa terjaga dari kese-satan. Amiin.


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: