MENCARI TITIK FOKUS KOMMA

22 12 2007

Oleh: Muhammad “Yudin” Taqiyuddin

[Sekjen KOMMA]

Islam sebagai agama dan peradaban telah lahir sejak Muhammad Saw. diutus lebih kurang empat belas abad lalu. Sepeninggalnya, Islam mulai berjalan menyesuaikan dengan lingkungan dan masyarakat sekitar. Terkadang ia diadopsi sebagai ideologi suatu pemerintahan, terkadang ia hanya sekedar aturan hidup pribadi. Namun, setelah perjalanannya yang begitu jauh dari kehidupan sang Rasul Allah, Islam pun seakan “dipermainkan” oleh para pemeluknya. Banyak oknum yang mengaku membawa atas nama agama Islam, yang padahal melalui label agama itu mereka mengambil keuntungan duniawi. Mereka hanya memanfaatkan agama untuk kepentingan pribadi belaka, bukan untuk umat. Alhasil, umat terbengkalai, dan Islam sebagai peradaban pun terabaikan.

Pada masa kekhalifahan Islam di bawah kedinastian bani Umayyah dan Abbasiyah, Islam sempat menunjukkan kejayaannya pada dunia. Oleh karena kekurang-sigapan dan kekurang-telitian para khalifah terhadap musuhnya, para khalifah pun serasa “ditikam” dari belakang.

Kejayaan Islam masa Umayyah kini jadi kenangan. Akankah kembali ke masa itu? Jawabnya bisa ya, dan bisa pula tidak. Bilamana para pemimpin dan umat Islam berpikir untuk kepentingan bersama, niscaya Islam akan maju. Sekarang bagaimana umat bisa maju sedangkan pemimpinnya tidak mengabdikan dan berdedikasi penuh untuk ummat? Bagaimana mungkin umat bisa maju? Akhirnya umat un tidak sejahtera dan terbelakang.

Memajukan umat kembali sebenarnya tercermin ada do’a dan ucapan yang sering terucap dalam setiap pertemuan. Ucapan itu ialah “Assalamu’alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh”. Terjemahan bahasa Indonesianya lebih kurang ialah: Semoga salam sejahtera atas kalian, kasih sayang Allah, dan keberkahanNya. Keselamatan sangat jelas kita hrapkan. Baik di dunia dan di akhirat. Namun tak kalah menariknya ialah kesejahteraan yang sering kita singgung, karena kata “sejahtera” ini merupakan tolok ukur kehidupan materi seseorang di dunia.

Dalam pengertian Perserikatan Bangsa-Bangsa dan badan-badan kesejahteraan nasional, kesejahteraan setidaknya meliputi tiga hal: kesehatan dan pendidikan. Dua hal ini amat penting. Tanpa kesehatan, manusia tidak bisa hidup dengan baik dan tidak bisa mengabdikan hidupnya pada Allah Swt. Begitupun tanpa pendidikan, manusia tidak tahu cara mengabdikan pada Allah Swt. Oleh sebab itu, kedua hal tersebut menjadi pertaruhan menuju hidup sejahtera.

Komunitas Muslim Muda Alfikr disingkat KOMMA, merupakan komunitas dan organisasi kemasyarakatan kaum muslim muda (bukan pemuda, tapi berjiwa muda) untuk senantiasa berpikir memajukan ummat. Sebagaimana disinggung di atas, salah satu bentuk majunya umat ialah karena kesejahteraannya. Apakah pendidikannya bermutu? Apakah kondisi kesehatannya terjamin? Jika keduanya tidak mencukupi, maka belum termasuk maju. Sebaliknya, jika keduanya tercukupi, umat akan merasakan kelayakan hidup dan bisa mengabdikan seluruh hidupnya untuk Allah Swt.

Hingga saat ini KOMMA belum berkonsentrasi secara penuh kepada salah satu bidang. KOMMA hanya melakukan kegiatan rutin yang berporos pada kajian pemikiran keislaman. Ini tercermin pada kegiatan kajian dwi mingguan. Selain itu, KOMMA saat ini memiliki kegiatan pelatihan dasar keterampilan hidup (basic life skill), yaitu Quranic Motivation Training (Q-Move). Namun pelatihan ini kabarnya sudah “dicuri” oleh salah satu lembaga pusat pengembangan Islam di Bogor. Di saming itu, sudah berjalan pula kegiatan pelatihan penghitungan kalender Hijriyah, dan itu pun baru penjajakan, belum berjalan pada pengaplikasian menjadi sebuah kalender. Saya menganggap ketiga kegiatan tersebut hanya ritual dan sebatas dalam lingkungan KOMMA, belum berani pada pengaplikasian yang berimplikasi keada masyarakat secara luas (ummat).

Kesejahteraan ummat yang disinggung di atas dianggap pantas untuk menjadi fokus utama visi KOMMA ke depan. Di dalamnya terdapat beberapa cabang kegiatan pendukung untuk mewujudkan kesejahteraan ummat, di antaranya:

1. Pengembangan lembaga pendidikan dan pelatihan

Pendidikan adalah tulang punggung kesejahteraan ummat. Oleh sebab itu, KOMMA harus memperhatikan kegiatan pengembangan lembaga-lembaga pendidikan di Indonesia, khususnya lembaga pendidikan Islam atau yang dikelola untuk umat Islam dengan cara membentuk departemen/divisi pengembangan lembaga pendidikan dan pelatihan. Melalui divisi ini, KOMMA menyelenggarakan: Taman Pendidikan Al-Qur’an, Pesantren kilat, pelatihan motivasi, pelatihan hisab/ilmu falak, pelatihan penulisan, bimbingan belajar (bim-bel), konsultasi pendidikan, privat mengaji, dan lainnya.

2. Pemberdayaan ekonomi ummat

Setelah pendidikan tercukupi, diharapkan umat bisa memikirkan masalah ekonominya sehingga semua kebutuhannya tercukupi. Maka dari itu, ekonomi tidak bisa ditinggalkan. KOMMA harus berlanjut kepada masalah satu ini dengan cara membentuk departemen/divisi pemberdayaan ekonomi ummat. Di dalamnya terdapat kegiatan bisnis dan pengelolaan usaha ummat.

3. Pembinaan kesejahteraan ummat

Kegiatan ini dikhususkan bagi kesejahteraan secara materi, seperti pemberian beasiswa kepada anak yatim yang tidak mampu namun berprestasi. Ataupula, bisa dengan memberikan santunan kepada masyarakat miskin di pedalaman. Kedua bentuk penyaluran bantuan ini ke depan akan menjadi tulang punggung keberkahan dan ikon KOMMA. Sumbernya diharapkan dari penerimaan zakat secara profesional dan teratur. Kegiatan ini diakomodasi melalui departemen/divisi pembinaan kesejahteraan umat.

4. Pengembangan lembaga dakwah dan pemikiran Islam

Awal dari lahirnya komunitas muslim muda ini ialah penyaluran dan pengembangan pemikiran Islam. Melalui pemikiran Islam itu, KOMMA ingin menyampaikannya dalam bentuk dakwah kepada umat. Walaupun hingga saat ini belum teraplikasikan kegiatan dakwah tersebut. Oleh sebab itu, saat ini KOMMA harus berusaha mewujudkan kegiatan dakwah yang merupakan bukti dari kegiatan pengajjian dan pengkajian pemikiran Islam. Departemen/divisi ini memiliki kegiatan: kajian dan pengajian keislaman, sosial, budaya, hukum, dan politik.

5. Pengembangan jaringan komunikasi umar

Komunikasi diyakini sebagai urat saraf sebuah komunitas. Komunitas sendiri terbentuk karena adanya kegiatan komunikasi intensif. Ada baiknya jika komunikasi tersebut terikat dalam sebuah jaringan yang terus dikembangkan. Di antara bentuk kegiatan pada departemen ini ialah: penyebarluasan pemikiran KOMMA, pembuatan buletin, pengelolaan data base tokoh muslim dan ormas Islam, dan lainnya.

Dengan adanya kelima departemen/divisi dan kegiatan tersebut diharapkan KOMMA bisa mewujudkan kesejahteraan ummat. Kesemua itu harus diwujudkan dalam aplikasi nyata. Tidak berhenti pada wacana dan usulan. Tujuan dan cita-cita mulia ini tidak bisa dikerjakan sendiri, namun harus dikerjakan secara bersama-sama yang didukung dengan adanya PADAT KARYA dan PADAT MODAL. Yang dimaksud dengan padat karya ialah, umat Islam terutama pengurus KOMMA harus memiliki sumber daya manusia (SDM) berkualitas dan adapun adat modal ialah, untuk mencapai cita-cita ini KOMMA harus memiliki modal yang cukup.

Demikian kesejahteraan umat yang harus menjadi titik fokus utama program-program KOMMA. Dengan begitu, bukan KOMMA yang mengalami kemajuan, namun Islam secara keseluruhan akan bangkit dari keterpurukan.

Wallohu a’lam bish-shawab.


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: