Penafsiran Hamka Tentang Surat al-Nisâ Ayat 1

13 01 2008

Oleh : Lexi Zulkarnaen Hikmah*

I.             Pendahuluan

Dalam tradisi yang berkembang selama ini baik di Timur maupun Barat terdapat pandangan yang mendiskriminasikan–untuk tidak mengatakan merendahkan–perempuan. Dalam tradisi kita di Indonesia misalnya, perempuan dianggap tidak perlu untuk mengenyam pendidikan yang tinggi karena pada akhirnya akan melayani suami atau bahkan ada yang melihat mereka hanya berkutat dalam tiga tempat yang dikenal dengan istilah tiga R yaitu dapur, kasur dan sumur. Berbeda lagi dalam tradisi Barat Abad pertengahan, konon ketika itu terdapat penyelidikan yang dilakukan oleh para sekelompok orang yang dianggap ilmiah untuk menentukan status perempuan, apakah masuk dalam kategori manusia atau iblis. Hal ini dipengaruhi oleh dominasi pandangan gereja yang menganggap dosa asal (original sin)—jatuhnya Adam ke bumi—disebabkan oleh Eva yang tergoda oleh bisikan iblis untuk merayu Adam. Peradaban yang patriarkhi itu juga pernah dimiliki oleh bangsa Yunani, Romawi dimana perempuan bisa dipindah-pindahkan kekuasaanya dari tangan ayah ke suami, sehingga perempuan tidak memiliki otoritas apa-apa. Fenomena itu berlangsung sampai awal abad IX.[1]

Mitos-mitos yang berkembang seputar perempuan tersebut secara tidak langsung  mempengaruhi cara pandang (weltanschauung) melihat perempuan. Dalam hal ini perempuan dianggap sebagai manusia kedua (second human) yang tidak memiliki peran sama sekali dalam kehidupan sosial. Parahnya lagi cara pandang tersebut masuk ke dalam wilayah dogma dan doktrin keagamaan dalam kitab suci. Cara pandang yang bias semacam ini sebagaimana dikatakan Nasaruddin Umar tidak hanya terjadi pada kitab suci seperti al-Quran saja, tetapi juga kitab-kitab suci agama-agama besar lainnya seperti Bible, kitab suci Konghucu dan Budha, dan bahkan kitab klasik seperti Talmud.[2]

Dalam masyarakat muslim, yang membuat bias worlview tentang perempuan, menurut Husein Muhammad adalah tafsir keagamaan. Sampai saat ini, menurutnya, nalar mainstream yang dipakai untuk menafsirkan, menilai dan memproduksi pengetahuan di dalam masyarakat muslim adalah nalar keagamaan tekstualis-konservatif yang dihasilkan zaman kemunduran pemikiran Islam pada abad pertengahan, lebih tepatnya pasca abad ke IV H/ X M. Sudah 10 abad lamanya pemikiran kaum muslimin berjalan dengan tempo yang sangat lambat–untuk tidak mengatakan stagnan–tidak bergerak maju.[3]

Sedangkan dalam konteks Indonesia banyak tafsir yang dihasilkan sejak masuknya Islam ke Indonesia awal abad XIII M, tetapi di antara banyak tafsir tersebut yang cukup terkenal adalah Tafsir al-Azhar karya Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau yang dikenal dengan panggilan akrab Buya Hamka. Tafsir tersebut ditulis pada zaman orde baru, dimana gerakan pemikiran pembaruan Islam yang dimotori oleh Nurcholish Madjid dkk. pada tahun 1970-an muncul. Sedangkan di lain pihak gerakan feminisme yang mengusung keadilan dan persamaan hak pun hadir di tengah gencarnya wacana pembaruan Islam. Makalah ini akan membahas pemikiran Hamka mengenai isu kesetaraan gender, terutama penafsirannya mengenai surat al-Nisâ’ ayat 1, ditengah posisi dirinya yang berada di antara arus pembaruan pemikiran Islam dan wacana mengenai kesetaraan gender. Pertanyaan kemudian adalah, apa penafsiran Hamka tentang penciptaan manusia, terutama mengenai penciptaan perempuan dalam surat al-Nisâ’ ayat 1? Lalu apakah penafsiran tersebut bias gender? Sebelumnya akan dijelaskan mengenai kondisi sosial politik Orde Baru dan pandangan Islam dan gender tentang perempuan.

 

II.          Kondisi Sosial Politik Orde Baru

a.      Islam Masa Orde Baru

Dengan kekalahan komunis, Jenderal Soeharto mendirikan rezim militer baru pada akhir tahun 1965 setelah kekuasaan presiden Soekarno melemah hingga mengantarkan Jenderal Soeharto memangku jabatan presiden pada tahun 1966. Jenderal Soehato meraih kekuasaan berdasarkan sebuah koalisi perwira militer Indonesia, organisasi komunitas muslim, dan minoritas Katolik dan Protestan, dengan dukungan kalangan profesional dan birokrat kelas menengah dan kalangan intelegensia berpendidikan Barat. Setelah mencapai kekuasaan, ia segera mengorganisir pasukan militer dan mengembangkan kebijakan ekonomi nasional yang koheren dengan bantuan para penasihat yang berpendidikan di Amerika Serikat. Ia menerapkan program pembangunan perusahaan bebas dan mengendalikan tingkat inflasi. Ia juga mengizinkan kebebasan akademik dan kebebasan ekspresi artistik. Rezim Soeharto mengambil pola kebijakan sekuler, dengan penekanan terhadap Pancasila sebagai prinsip-prinsip dasar negara dan masyarakat.[4]

Kebijakan pemerintahan Soekarno dan Soeharto terhadap pergerakan Muslim merupakan sebuah model dari berbagai kebijakan yang pernah diberlakukan oleh Belanda pada sampai akhir pertengahan abad ke-19. pemerintahan Belanda membedakan aspek keagamaan dan aspek politik Islam, dengan mentolerir aspek keagamaan dan menekan aspek politiknya. Dengan mengikuti pola pikiran yang sama, elit militer dan birokrat Jawa menghancurkan kekuatan politik sejumlah partai muslim; hanya Nahdlatul Ulama yang berkenan bekerja sama dengan rezim sekuler, dapat mempertahankan pengaruhnya.[5]

Sementara kelompok-kelompok di luar Islam, terutama dari kalangan sosialis maupun Kristen justru mengambil kesempatan dengan memilih memberikan dukungan terhadap Orde Baru dengan program modernisasi dan pembangunannya. Situasi ini justru mengakibatkan kelompok Islam berada dalam posisi marginal, dan bahkan menimbulkan kesan kuat di kalangan sementara elit Orde Baru bahwa Islam anti pembangunan dan bahkan seringkali dipojokkan sebagai “anti-Pancasila”.[6]  

Di lain pihak, tokoh-tokoh muda seperti Nurcholish Madjid, Djohan Effendi, dan Abudurrahman Wahid mengusung ide pembaruan terhadap pemahaman Islam yang sesuai dngan nilai-nilai yang dikembangkan pemerintah. Menurut Greg Barton, selama periode inilah khususnya, visi pemerintah (Orde Baru) tampaknya sejalan dengan visi ketiga tokoh tersebut. “Pembangunan” yang mengendalikan rezim Soeharto adalah kemajuan dan modernisasi; dua istilah yang juga menggelayuti pikiran-pikiran para reformer muda tersebut. Saat itu para pengkritik mereka mencemooh sikap akomodatif dan menolaknya karena dianggap semata-mata opurtunistik. Tuduhan sebagai “akomodasionis” menjadi tuduhan implisit bahwa para pemikir pembaruan berkepentingan terhadap kemajuan dan modernisasi semata-mata demi kepentingan politik.[7] Awal dari pembaruan pemikiran tersebut diawali oleh Nurcholish Madjid dengan menyampaikan ceramahnya dengan judul “Keharusan Pembaruan Pemikiran Islam dan Masalah Integrasi Umat” pada 2 Januari 1970. Dalam ceramahnya tersebut Cak Nur (sapaan akrab Nurcholish Madjid) meminjam konsep sekularisasi yang digagas oleh Harvey Cox dalam bukunya The Secular City: Secularization and Urbanization in Theoligical Perspective. Ceramahnya Cak Nur tersebut mengundang reaksi keras dari berbagai kalangan, terutama dari Prof. H.M. Rasyidi.[8]

 

b.      Gerakan Perempuan Orde Baru

Menurut Yanti Mochtar, gerakan perempuan di Indonesia pada masa Orde Baru dipengaruhi oleh faktor-faktor politik makro dan politik mikro. Faktor-faktor politik itu berkaitan dengan politik jender Orde Baru dan proses demokratisasi yang semakin menguat sejak akhir tahun 1980-an. Politik gender Orde Baru yang mengarahkan perempuan hanya berperan sebagai istri telah menghancurkan gerakan perempuan pada masa Orde Lama, dan menghalangi gerakan perempuan yang kritis dan baru.[9]

Sedangkan menurut Tati Hartimah dan Mu’min Rauf, gerakan perempuan pada masa Orde Baru memiliki banyak tujuan dan bentuk. Bentuk dan tujuan tersebut tertuang dalam bentukan organisasi-organisasi yang ada ketika Orde Baru. Akan tetapi dilihat dari independensinya organisasi perempuan pada masa Orde Baru dapat dibedakan menjadi dua bentuk. Pertama organisasi independen, kedua organisasi bentukan pemerintah. Organisasi independen model pertama yang memiliki keunggulan yang baik dilihat dari kualitas maupun kuantitasnya masih relatif sedikit seperti, Aisyiah, Wanita Katolik, PERWARI dan KAWI. Organisasi-organisasi tersebut masih mendapatkan kontrol dari pemerintah untuk tidak menyimpang dari garis-garis yang telah ditetapkan oleh Kantor Menteri Urusan Wanita, Departeman Sosial dan Departemen Dalam Negeri. Sedangakan organisasi model kedua dapat dilihat seperti Daharma Wanita yang diimplementasikan dalam gerakan PKK (Pendidikan Kesejahteraan Kelurga), yang menjadi perpanjangan tangan pemerintah dalam urusan perempuan. PKK tidak hanya berfungsi sebagai sara pendidikan perempuan tetapi juga digunakan untuk mengumpulkan suara bagi GOLKAR dalam pemilihan umum.[10]

 

III.       Gender dan Islam

a.      Pandangan Islam Tentang Perempuan

Islam secara tegas menempatkan perempuan setara dengan laki-laki, yakni dalam posisi sebagai manusia, ciptaan sekaligus hamba Allah swt. Meskipun secara biologis berbeda, bukan berarti menghalangi aktivitas perempuan untuk dapat melakukan perbuatan baik dan meningkatkan ketakwaan kepada Allah swt, karena al-Quran menegaskan bahwa tingkat kemulian–baik laki-laki maupun perempuan–dilihat dari sisi ketakwaannya, bukan dari perbedaan biologis. Dari kisah-kisah perempuan yang terdapat dalam al-Quran terlihat bahwa perempuan pun, sebagaimana laki-laki, mempunyai potensi untuk beriman dan ingkar terhadap Allah swt. Al-Quran sendiri menegaskan beberapa perempuan yang menjadi “contoh” di dalam surat al-Tahrîm ayat 10-12. Ada empat tokoh dalam perempuan dalam ayat-ayat itu, dua orang merupakan contoh buruk (tentang perempuan yang tidak beriman; istri Nabi Nuh dan istri Nabi Luth) dan dua orang lagi merupakan contoh yang baik (untuk orang-orang yang beriman; Istri Firaun dan Maryam, Ibu Nabi Isa a.s.). Hal ini menurut Barbara F. Stowasser dapat dikatakan sebagai gambaran dari apa yang terjadi di masa lalu dan merupakan “fakta sejarah”.[11] Selain itu, al-Quran dapat dikatakan sebagai pembebas bagi perempuan. Sebelum al-Quan turun, perempuan tidak boleh menerima warisan sama sekali, perempuan tidak boleh diakikahkan, dan perempuan tidak boleh menjadi saksi. Tetapi al-Quran dan Islam datang untuk mengubah dominasi patriarki tersebut.[12]

Dalam perkembangannya kemudian, paradigma mengenai perempuan pasca wafatnya Nabi Muhammad mengalami bias yang berkepanjangan. Persoalan politik yang terjadi antara Ali dan Muawaiyah, yang ketika itu sedang berseteru secara tidak langsung memiliki imbas dalam melanggengkan diskriminasi terhadap perempuan. Pasalnya Makkah dan Madinah ketika itu diduduki oleh para pendukung Ali dan Muawiyah yang tidak memiliki basis massa di kedua kota tersebut memindahkannya ke Damaskus. Padahal menurut Nasaruddin Umar bahwa peta Damaskus (syiria sekarang) sangat dipengaruhi kekuatan-kekuatan kultur Yunani-Yahudi, karena daerah tersebut pernah menjadi wilayah jajahan Romawi-Bizantium. Dari kota inilah kitab-kitab kuning yang dikenal oleh masyarakat Islam di Indonesia disusun. Kontaminasi local cuture (budaya lokal), Hellenisme, budaya Yunani yang termasuk misoginis sangat kuat dalam masyarakat Damaskus ketika itu. Dalam sejarah berikutnya Dinasti Muawiyah dikalahkan oleh Dinasti Abbasiyah, yang tidak juga mengembalikan ibu kota politik ke Makkah atau Madinah melainkan menariknya jauh ke Timur tepatnya di Baghdad. Sebagaimana diketahui bahwa Baghdad sebelumnya memiliki kekuatan budaya yang tinggi yaitu budaya Sasania atau Persia. Tradisi Persia juga dikenal sangat misoginis. Di kota ini pula tradisi kegiatan penulisan kitab-kitab kuning dilanjutkan. Oleh karena itu, lanjut Nasaruddin Umar, pengaruh lokal terhadap wawasan keagamaan, terutama perumusan kitab-kitab kuning besar sekali.[13]

Pandangan bias gender dalam penafsiran al-Quran terlihat pada penafsiran tradisional tentang surat al-Nisâ ayat 1. Penafsiran tersebut menafsirkan kata min nafs wâhidah (dari nafs yang satu) bahwa Hawa–istri Adam–diciptakan dari tulang rusuknya yang sebelah kiri. Dalam hal ini Muhammad Abduh menyadari bahwa kisah penciptaan Hawa yang berasal dari tulang rusuk sebelah kiri Adam, yang tidak punya dasar tekstual dalam al-Quran, menampilkan “unsur asing yang tidak bagus” masuk mencampuri.[14] Senada dengan gurunya, Rasyid Ridha mengatakan bahwa cerita tulang rusuk timbul dari ide yang termaktub dalam Perjanjian Lama (Kejadian II: 21-22) yang menyatakan bahwa ketika Adam tertidur lelap lalu Allah mengambil salah satu tulang rusuknya kemudian dibalut dengan daging dan ditiupkan ruh dan terciptalah seorang perempuan. Seandainya tidak terdapat kisah Adamdan Hawa seperti diceritakan dalam Kitab Perjanjian Lama, maka, lanjut Ridha, perbincangan tentang tulang rusuk tidak akan pernah muncul dalam benak umat Islam.[15] Cerita tentang tulang rusuk sebenarnya disandarkan dari hadis Nabi saw. yang menyebutkan bahwa wanita itu seperti tulang rusuk yang bengkok, jika dicoba diluruskan dengan keras dan paksa, maka dia akan patah. Para penafsir tradisional memahami hadis tersebut secara harfiah. Padahal ungkapan tulang rusuk di sini bersifat metaforik (majazy) seperti dikenal dalam retorika Arab. Kalaupun hadis itu sahih adanya dari Nabi saw. maka sebenarnya ia tidak sedang berbicara tentang asal usul penciptaan, melainkan berpesan agar perempuan diperlakukan dengan penuh kasih sayang dan kelembutan.[16]

Tafsir yang bias gender tersebut menurut Amina Wadud, disebabkan oleh karena semua tafsir tersebut ditulis oleh laki-laki. Hal ini berarti bahwa laki-laki dan pengalaman laki-laki dilibatkan dalam penafsiran. Sementara, perempuan dan pengalaman perempuan ditiadakan atau ditafsirkan menurut visi, perspektif, kehendak atau kebutuhan laki-laki.[17] Sedangkan menurut Asma Barlas, bahwa pembacaan-pembacaan misoginis terhadap Islam semacam ini tidak bersumber dari ajaran al-Quran, melainkan dari upaya para mufasir dan komentator al-Quran “untuk melegitimasi adat kebiasaan pada zaman mereka dengan merincikannya dalam tafsir kitab suci”.[18]

 

b.      Sekilas Tentang Gender dan Seks

Apa arti gender dan seks? Gender berasal dari bahasa Latin, yaitu “genus”, berarti tipe atau jenis. Gender adalah sifat dan perilaku yang dilekatkan pada laki-laki dan perempuan yang dibentuk secara sosial maupun budaya.  Karena dibentuk oleh sosial dan budaya setempat, maka gender tidak berlaku selamanya tergantung kepada waktu (tren) dan tempatnya. Sebagai contoh: dahulu hanya perempuan yang menggunakan anting-anting, tren akhir-akhir ini ternyata banyak juga laki-laki yang menggunakan anting-anting.  Gender juga sangat tergantung kepada tempat atau wilayah, misalnya apabila di sebuah desa perempuan memakai celana dianggap tidak pantas, maka di tempat lain bahkan sudah jarang menemukan perempuan memakai rok.  Karena bentukan pula, maka gender bisa dipertukarkan.  Misalnya apabila dulu pekerjaan memasak selalu dikaitkan dengan perempuan, maka sekarang ini sudah mulai banyak laki-laki yang malu karena tidak bisa mengurusi dapur atau susah karena harus tergantung kepada perempuan untuk tidak kelaparan.[19]

Sedangkan kata seks berasal dari bahasa Inggris sex, yang berarti jenis kelamin. Hal ini diperjelas dalam dengan kamus lainnya bahwa “sex is the characteristics which distinguish the male from the female”, yakni ciri-ciri yang membedakan antara jenis kelamin-laki-laki dan perempuan yang bersifat biologis.[20]

Untuk melihat apakah dalam nilai ataupun norma yang terbentuk dalam suatu masyarakat terdapat bias gender ataupun tidak, dapat meminjam analisis yang digunakan aliran feminisme liberal. Aliran ini menggunakan teori sosiologi fungsionalisme-struktural. Teori ini berkembang sejalan dan dipengaruhi ilmu biologi, yang melahirkan asumsi bahwa perbedaan jenis laki-laki dan perempuan adalah kodrat yang harus diterima serta memberi indikasi peran dan tugas yang berbeda. Adanya keragaman dalam dalam kehidupan sosial diyakini sebagai sumber utama dari struktur masyarakat yang melahirkan keragaman fungsi, sesuai dengan posisi seseorang dalam struktur sebuah sistem. Perbedaan fungsi ini tidak untuk memenuhi kepentingan individu, tetapi untuk mencapai tujuan sistem sebagai kesatuan. Struktur dan fungsi ini sudah tentu tidak lepas dari pengaruh norma dan nilai budaya.[21]

Pengaruh fungsionalisme-struktural terhadap feminisme liberal tampak pada analisis kritisnya dalam melihat masalah rendahnya status dan peranan perempuan dalam masyarakat; yaitu bukan karena perbedaan jenis kelamin atau akibat ideologi dan kultur patriarki, tetapi terletak pada rendahnya rasionalitas perempuan. Hal seperti ini disebabkan oleh diri perempuan sendiri yang terbenam dalam peran domestik dan ruang privat. Karena itu mereka terdiskriminasi, tidak memperoleh kebebasan (freedom) dan kesempatan yang sama (equality) dengan laki-laki dalam pendidikan dan pengembangan rasionalitas.[22]

Asumsi utama yang dikembangkan untuk melihat ketidakadilan gender adalah diskriminasi yang dipandang sebagai pelanggaran hak asasi.[23]   

IV.        Hamka dan Tafsir al-Azhar

a.      Mengenal Hamka dan Karya-karyanya

HAMKA adalah akronim kepada nama sebenarnya Haji Abdul Malik bin Abdul Karim Amrullah. Beliau adalah seorang ulama, aktivis politik dan penulis Indonesia yang amat terkenal di alam Nusantara. Beliau lahir pada 17 Februari 1908 di kampung Molek, Maninjau, Sumatera Barat, Indonesia. Ayahnya ialah Syeikh Abdul Karim bin Amrullah atau dikenali sebagai Haji Rasul, seorang pelopor Gerakan Islah (tajdid) di Minangkabau, sekembalinya dari Makkah pada tahun 1906. Hamka mendapat pendidikan rendah di Sekolah Dasar Maninjau sehingga kelas dua. Ketika usia Hamka mencapai 10 tahun, ayahnya telah mendirikan Sumatera Thawalib di Padang Panjang. Di situ Hamka mempelajari agama dan mendalami bahasa Arab. Hamka juga pernah mengikuti pengajaran agama di surau dan masjid yang diberikan ulama terkenal seperti Syeikh Ibrahim Musa, Syeikh Ahmad Rasyid, Sutan Mansur, R.M. Surjopranoto dan Ki Bagus Hadikusumo. Hamka adalah seorang otodidiak dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan seperti filsafat, sastra, sejarah, sosiologi dan politik, baik Islam maupun Barat. Dengan kemahiran bahasa Arabnya yang tinggi, beliau dapat menyelidiki karya ulama dan pujangga besar di Timur Tengah seperti Zaki Mubarak, Jurji Zaidan, Abbas al-Aqqad, Mustafa al-Manfaluti dan Hussain Haikal. Melalui bahasa Arab juga, beliau meneliti karya sarjana Perancis, Inggris dan Jerman seperti Albert Camus, William James, Sigmund Freud, Arnold Toynbee, Jean Paul Sartre, Karl Marx dan Pierre Loti. Hamka juga rajin membaca dan bertukar-tukar pikiran dengan tokoh-tokoh terkenal Jakarta seperti HOS Tjokroaminoto, Raden Mas Surjopranoto, Haji Fachrudin, Ar Sutan Mansur dan Ki Bagus Hadikusumo sambil mengasah bakatnya sehingga menjadi seorang ahli pidato yang handal. [24]

Pada tahun 1952, Hamka mendapat kesempatan untuk mengadakan kunjungan ke Amerika Serikat atas undangan Depertemen Luar Negeri Amerika Serikat. Sejak itu, beliau sering berkunjung ke beberapa negara, baik atas undangan negara bersangkutan maupun sebagai delegasi Indonesia. Pada tahun 1958, beliau menjadi anggota delegasi Indonesia uantuk simposium Islam di Lahore. Dari Lahore beliau meneruskan perjalanannya ke Mesir. Dalam kesempatan itu, beliau menyampaikan pidato promosi untuk mendapatkan gelar Doktor Honoris Causa di Universitas al-Azhar, Cairo. Gelar Doktor Honoris Causa juga didapatkannya dari University Kebangsaan Malysia pada tahun 1974.[25]

Dari tahun 1964 hingga tahun 1966, Hamka dipenjarakan oleh Presiden Sukarno karena dituduh pro-Malaysia. Semasa dipenjaralah beliau mulai menulis Tafsir al-Azhar yang merupakan karya ilmiah terbesarnya. Pada 26 Juli 1977, Menteri Agama Indonesia, Prof. Dr. Mukti Ali melantik Hamka sebagai ketua umum Majlis Ulama Indonesia tetapi beliau kemudiannya meletak jabatan pada tahun 1981 karena fatwanya tentang haram hukumnya bagi umat Islam menghadiri upacara natal. Juli 1981, dalam usia 73 tahun, di RS Pertamina, Buya Hamka wafat, setelah selesai mementaskan perannya dalam hidup yang syarat dengan perjuangan dan pengorbanan. Beliau meninggalkan satu orang isteri, Siti Raham binti Endah Sutan, dan sepuluh anak.[26]

Hamka juga menghasilkan karya ilmiah Islam dan karya kreatif seperti novel dan cerpen. Tercatat paling tidak sekitar 118 buah yang sudah dibukukan. Ini belum termasuk berbagai cerita pendek dan karangan panjang yang tersebar di berbagai penerbitan, media massa, dan forum-forum ilmiah, serta ceramah. Sebagai bukti penghargaan yang tinggi dalam bidang keilmuan. Karya ilmiah terbesarnya ialah Tafsir al-Azhar (30 jilid) dan antara novel-novelnya yang mendapat perhatian umum dan menjadi buku teks sastra di Malaysia dan Singapura termasuk Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, Di Bawah Lindungan Kabah dan Merantau ke Deli.[27]

 

b.      Karakteristik Tafsir al-Azhar

Tafsir al-Azhar terdiri dari 30 juz yang dimulai dengan surat al-Fâtihah dan diakhiri dengan surat al-Nâs dan pertama kali diterbitkan oleh Pembina Masa pada tahun 1967.[28] Kemudian diterbitkan lagi oleh Pustaka Panjimas Jakarta tahun 1975 dalam dua edisi, edisi pertama berbentuk tipis setiap juz, dari juz I sampai juz XXX dan edisi yang kedua dicetak dalam bentuk lux berdasarkan surat-surat tertentu dengan beberapa jilid. Hingga saat ini Tafsir al-Azhar sudah mengalami berulang-kali cetakan.

Sebagaimana karya tafsir pada umumnya, Tafsir al-Azhar karya Hamka pun memiliki corak dan ciri khas tersendiri yang menunjukkan pemikiran penafsirnya. Sebagimana diakui penulisnya, Tafsir al-Azhar merupakan penggabungan antara naql (riwâyah) dan ‘aql (dirâyah). Dalam bidang mazhab, baik mazhab teologi maupun fiqih, tafsir ini tidak merujuk kepada satu pendapat saja (fantisme mazhab) dan menghindari perdebatan antar mazhab. Akan tetapi mencoba mendekati maksud ayat dengan menguraikan makna lafaz dalam bahasa Arab ke dalam bahasa Indonesia, memberikan asbâb al-nuzûl apabila terdapat riwayatnya dan memberikan kesempatan bagi pembacanya untuk berpikir.  Selain itu, tafsir ini pun dipengaruhi oleh pemikiran ulama-ulama besar di dunia Islam dengan berbagai macam karya tafsirnya seperti Tafsîr al-Manâr karya Muhammad Abduh dan Sayyid Rasyid Ridha, Tafsîr al-Marâghy, Tafsîr al-Qâsimy dan Tafsîr fî zilâl al-Qurân karya Sayyid Quthb. Dalam bidang pengetahuan umum, penulis tafsir ini meminta bantuan kepada ahlinya. Seperti halnya dalam ilmu falak (perbintangan), Hamka meminta bantuan kepada Sa’aduddin Jambek, begitu pula dengan hal yang lainnya.[29] Menurut Federspiel, Tafsir al-Azhar karya Hamka memiliki kelebihan lain dibandingkan karya tafsir sezamannya yaitu membicarakan tentang sejarah dan peristiwa-peristiwa kontemporer. Sebagai contoh dari masalah tersebut terlihat dalam komentarnya tentang pengaruh Orientalisme terhadap gerakan-gerakan kelompok nasionalis di Asia Timur pada awal abad ke-20.[30]

Sedangkan alasan tafsir ini diberi nama Tafsir al-Azhar adalah karena pada awalnya tafsir ini merupakan pengajian tafsir setelah salat Subuh di Masjid Agung al-Azhar Kebayoran Lama. Lalu di tambah dengan penulisan pengajian “tafsir Subuh” tersebut di dalam majalah Gema Islam yang diterbitkan oleh Perpustakaan Islam al-Azhar, yang alamat redaksinya masih dalam di ruang Masjid Agung al-Azhar. Oleh karena itu, Hamka memberikan nama tafsirnya tersebut Tafsir al-Azhar, yang sebetulnya nama masjid tersebut diberikan oleh Syaikh Muhammad Syaltut–ketika itu menjabat sebagai Syaikh al-Azhar–ketika berkunjung.[31] Dengan uraian mengenai karakteristik dan corak pemikiran Tafsir al-Azhar, dapat diketahui bahwa metode penafsiran yang digunakan Hamka dalam tafsirnya merupakan metode al-tafsîr al-tahlîly.[32]

 

c.       Penafsiran Hamka Tentang Surat al-Nisâ’ Ayat 1

Sebagaimana diketahui, bahwa terjadinya bias gender dalam masyarakat muslim disebabkan adanya nilai ataupun norma yang dipegang sebagai acuan. Sedangkan nilai dan norma tersebut timbul disebabkan adanya penafsiran terhadap al-Quran. Dalam Islam, ayat yang mendapat sorotan mengenai penafsirannya adalah surat al-Nisâ ayat 1, yang berbicara tentang penciptaan manusia. Berikut ini akan dipaparkan penafsiran Hamka mengenai ayat tersebut. 

$pkš‰r¯»tƒ â¨$¨Z9$# (#qà)®?$# ãNä3­/u‘ “Ï%©!$# /ä3s)n=s{ `ÏiB <§øÿ¯R ;oy‰Ïnºur t,n=yzur $pk÷]ÏB $ygy_÷ry— £]t/ur $uKåk÷]ÏB Zw%y`͑ #ZŽÏWx. [ä!$|¡ÎSur 4 (#qà)¨?$#ur ©!$# “Ï%©!$# tbqä9uä!$|¡s? ¾ÏmÎ/ tP%tnö‘F{$#ur 4 ¨bÎ) ©!$# tb%x. öNä3ø‹n=tæ $Y6ŠÏ%u‘ ÇÊÈ

Hai sekalian manusia! Bertakwalah kamu kepada Tuhanmu yang telah menjadikan kamu dari seorang diri, dan dari padanya dijadikanNya isterinya serta dari keduanya Dia memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertakwalah kepada Allah yang kamu telah tanya-bertanya tentang (naman)Nya, dan (peliharalah) kekeluargaan. Sesungguhnya Allah pengawas atas kamu. (1)

Hamka memulai penafsiran mengenai seruan Tuhan kepada manusia, dalam hal ini Tuhan tidak pandang negeri atau benua, bangsa atau warna kulit. Seruan di sini terdapat dua hal, pertama untuk bertakwa kepada Allah dan kedua supaya manusia mengerti bahwa manusia dibelahan bumi mana pun, mereka adalah satu.[33]

Setelah itu dijelaskan mengenai penggalan ayat“Dan daripadanya dijadikanNya isterinya”. Maksudnya dari diri yang satu diciptakan pula pasangannya, yaitu istrinya. Hamka memaparkan mengenai penafsiran sebgian besar mufasir yang bersumber dari Mujahid.

      “…Ibnu Abi Syaibah dan Abd bin Humaid, Ibnu Jarir, Ibnul Mundzir dan Ibnu Abi Hatim menjelaskan, bahwa Mujahid memang menafsirkan demikian. Yaitu bahwa diri yang satu ialah Adam. Dan Mujahid menafsirkan, bahwa jodohnya dijadikan daripadanya yaitu ialah Hawa, yaitu dari tulang rusuk Adam. Ibnul Mundzir dan Abd Humaid menjelaskan lagi, bahwa tulang rusuk Adam itu, ialah tulang rusuk kiri yang bawah sekali…”[34]

Menurut Hamka, para mufasir tersebut berpegang kepada hadis Nabi yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim. Dalam hadis tersebut Nabi memperingatkan agar perempuan dipelihara dengan baik, karena dia dijadikan dari tulang rusuk, yang apabila dikeraskan akan patah dan apabila dibiarkan maka akan tetap bengkok. Hadis tersebut, menurutnya, tidak dipahami Hawa diciptakan dari tulang rusuk Adam sebelah kiri. Tetapi tabiat dan perangai perempuan itu menyerupai tulang rusuk.

“…setinggi-tinggi yang dapat diambil dari hadis ini hanyalah, bahwa tabiat, kelakuan perempuan itu menyerupai tulang rusuk, yang kalau dikerasi akan patah dan kalau dibiarkan saja, tetap bengkok. Jadi bukan dirinya yang dibuat dari tulang rusuk, melainkan perangainya menyerupai tulang rusuk. Dan yang terang sekali ialah, bahwa sekalian perempuan dalam dunia ini tidaklah terjadi dari tulang rusuk…”[35]

Hamka mengatakan bahwa yang memiliki keyakinan terhadap penciptaan Hawa berasal dari tulang rusuk adalah bangsa Ibrani terutama kaum Yahudi. Hal ini termaktub dalam Kitab Kejadian II: 21-22.

Selain hadis yang telah disebutkan tadi, terdapat pula versi hadis lain yang dikelurakan oleh Ibnu Jarir, Ibnu Abi Hatim, al-Baihaqi dan Ibnu Asakir dari Ibnu Abbas, Ibnu Mas’ud dan beberapa Sahabat Nabi saw. yang mengatakan:

      “…Tatkala Adam beriman di dalam syurga itu, dia berjalan kesepian seorang diri, tidak ada diri untuk menentramkan hati. Maka diapun tidurlah. Setelah beberapa lama tertidur, diapun terbangun. Tiba-tiba di sisi kepalanya seorang perempuan telah duduk, yang telah dijadikan Allah dari tulang rusuknya…”[36]

Penafsiran seperti ini, menurut Hamka, bukanlah perkataan tegas Nabi Muhammad saw melainkan penafsiran beberapa Sahabat seperti Ibnu Abbas dan Ibnu Mas’ud. Sebagian mufasir berbaik sangka dengan penafsiran Ibnu Abbas dan Ibnu Mas’ud tersebut sehingga memasukkannya di dalam tafsir-tafsir mereka. Sebagian mufasir lagi yang lain berpendapat bahwa hadis tersebut didapatkan bukan dari keterangan Rasulullah, tetapi karena mendengar perkataan orang-orang Yahudi. Sedangkan Rasulullah mengatakan bahwa apabila mendengar perkataan ahl al-kitâb janganlah segera kamu benarkan dan jangan pula segera kamu salahkan, terimalah apa adanya.

Setelah itu, Hamka, menawarkan alternatif penafsiran yang lain mengenai penggalan ayat tadi. Menurutnya bahwa manusia baik laki-laki maupun perempuan, di mana pun berada, dan berbeda warna kulitnya, tetapi  mereka itu adalah diri yang satu. Sama sama berakal, menginginkan yang baik dan tidak menyukai yang buruk. Oleh karena itu, lanjut Hamka, handanya melihat orang lain itu seperti melihat diri sendiri. Kemudian dari diri yang itu dipecah, dan dijadikan pasangannya. Hal ini diumpamakan seperti:

      “…Ibaratkan kepada kesatuan kejadian Alam semesta, yang kemudian dibagi dua menjadi positif dan negatif…”[37]

Kejadian penciptaan laki-laki dan perempuan, ungkap Hamka, merupakan perubahan kecil dalam “teknik” Ilahi.

Kemudian dilanjutkan penggalan ayat “Bertakwalah kepada Allah, yang kamu telah tanya bertanya tentang (nama)Nya, dan (peliharalah) kekeluargaan”. Ayat tersebut memberikan kesadaran kepada manusia setelah akal mereka berkembang untuk selalu menyebut nama Allah. Tetapi penyebutan nama Allah tersebut jangan hanya menjadi pertanyaan-pertanyaan dan buah bibir saja, melainkan di dalam jiwa bentuk takwa kepada-Nya.[38]

Dilanjutkan kembali dengan menafsirkan kata arhâm yang adalah bentuk jamak dari rahîm yang berarti kasih sayang. Kata arhâm tersebut juga mengingatkan manusia akan kesatuan tali keturunan manusia. Kemudian tempat mengandung di sebut dengan rahim ibu karena seorang ibu mengandung anaknya dalam suasana kasih sayang.[39]

Diakhiri dengan penggalan ayat “Sesungguhnya Allah Pengawas atas kamu“. Hamka mengatakan:

      “…meskipun warna kulit berlainan karena berlainan iklim, benua tempat tinggal pun berlainan pula, ingatlah, bahwa kamu semuanya hanyalah satu belaka, yaitu sam-sama manusia yang dipertemukan oleh akal budi. Dan satu pula Tuahn yang menjadi pengawasmu siang dan malam, yaitu Allah…”[40] 

 

V.           Penutup

Dari uraian penafsiran Hamka tentang surat al-Nisâ ayat 1, dapat dipahami mengenai kedudukan Hamka dalam melihat perempuan. Hamka tidak dapat membantah mengenai hadis-hadis tentang diciptakannya perempuan dari tulang rusuk, akan tetapi hadis tersebut tidak dimaknai secara tekstual melainkan secara metaforis. Karena tingkah laku perempuan seperti tulang rusuk yang apabila dikeraskan akan patah dan dan apabila didiamkan akan bengkok. Sedangkan hadis lain tentang yang didapatkan dari Ibnu Abbas dan Ibnu Mas’ud, Hamka, “mencurigai” masuknya Israiliyyat dalam penafsiran mufasir-mufasir terdahulu yang bersikap husn al-znn (berbaik sangka) terhadap cerita-cerita Yahudi. Yang paling menarik adalah sikap Hamka sendiri yang menegaskan posisinya bahwa manusia diciptakan dari diri yang satu. Penciptaan tersebut seperti penciptaan Alam, yang kemudian terbagi dalam posistif dan negatif.

Dari sini dapat disimpulkan bahwa penafsiran Hamka mengenai surat al-Nisâ ayat 1 tidak terdapat pernyataan-pernyataan ataupun penafsiran yang diskriminasi terhadap perempuan.

Wallahu a’lam.

 

 

 

 

*Peminat Kajian Tafsir dan Hadis, tinggal di Ciomas, Bogor

 




[1] Ala’i Nadjib, “Perempuan Dalam Islam; Pandangan Dalam al-Quran dan Hadits,” artikel dalam seminar “Gerakan Pembaharuan Islam dan Isu-isu Gender” di Universitas Paramadina, Rabu 14 Februari 2007, h. 1.

[2] Nasaruddin Umar, “Semua Kitab Suci Bias Gender,” dalam A. Muqsith Ghazali, ed., Ijtihad Islam Liberal; Upaya Merumuskan Keberagamaan Yang Dinamis (Jakarta: Jaringan Islam Liberal, 2005), h. 260.

[3] Husein Muhammad, “Metode Kontekstual: Sebuah Cara Untuk Mewujudkan Keadilan Bagi Perempuan,” artikel dalam seminar “Gerakan Pembaharuan Islam dan Isu-isu Gender” di Universitas Paramadina, Rabu 14 Februari 2007, h. 1.

[4] Ira M. Lapidus, Sejarah Sosial Umat Islam, Alih bahasa: Ghufron A. Mas’adi (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1999), h. 345.

[5] Lapidus, Sejarah Sosial Umat Islam, h. 347.

[6] M. Syafi’i Anwar, Pemikiran Dan Aksi Islam Indonesia; Sebuah Kajian Politik Tentang Cendikiawan Muslim Orde Baru (Jakarta: Paramadina, 1995), h. 37-38.

[7] Greg Barton, Gagasan Islam Liberal di Indonesia; Pemikiran Neo-Modernisme Nurcholish Madjid, Djohan Effendi, Ahmad Wahib, dan Abdurrahman Wahid, Alih bahasa: Nanang Tahqiq (Jakarta: Paramadina, 1999), h. 471.

[8] Lihat Abdul Muis Naharong, Pembaruan Pemikiran Keagamaan Nurcholish Madjid, artikel dalam seminar “Islam dan Kemajemukan” di Universitas Hasanuddin (UNHAS) Makassar, pada tanggal 11 Desember 2006. Sedangkan untuk lebih lengkap mengenai kritik Rasyidi terhadap Nurcholish Madjid lihat bukunya H.M.Rasyidi, Koreksi Terhadap Drs. Nurcholish Madjid Tentang Sekularisasi (Jakarta: Bulan Bintang, 1972).

[9] “Merefleksikan Makna Gerakan Perempuan,” artikel diakses pada tanggal 1 November 2007 dari http://www.kompas.com/kompas-cetak/0303/17/swara/185605.htm

[10] Tati Hartimah dan Mu’min Rauf, “Sejarah Pergerakan Perempuan di Indonesia,” dalam Tim Penulis Pusat Studi Wanita (PSW) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Pengantar Kajian Gender (Jakarta: Pusat Studi Wanita (PSW) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2003), h. 48-49.

[11] Barbara Freyer Stowasser, Reinterpretasi Gender; Wanita Dalam al-Quran, Hadis Dan Tafsir, Alih bahasa: H.M. Mochtar Zoerni (Jakarta: Pustaka Hidayah, 2001), h. 55.

[12] Nasaruddin Umar, “Semua Kitab Suci Bias Gender,” h. 262-263.

[13] Nasaruddin Umar, “Semua Kitab Suci Bias Gender,” h. 260-262.

[14] Stowasser, Reinterpretasi Gender, h. 85-86.

[15] Siti Musdah Mulia, Islam Menggugat Poligami (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2004), h. 86.

[16] Nadjib, “Perempuan Dalam Islam,” h. 5.

[17] Amina Wadud, Quran Menurut Perempuan; Membaca Kembali Kitab Suci Dengan Semangat Keadilan, Alih bahasa: Abdullah Ali (Jakarta: Serambi, 2006), h. 17.

[18] Asma Barlas, Cara Quran Membebaskan Perempuan, Alih bahasa: R. Cecep Lukman Yasin (Jakarta: Serambi, 2005), h. 43.

[19] “Seks dan Gender,” artikel diakses pada tanggal 1 November 2007 dari http://situs.kesrepro.info/gendervaw/referensi.htm

[20] Asriati Jamil dan Amany Lubis, “Seks dan Gender,” dalam dalam Tim Penulis Pusat Studi Wanita (PSW) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Pengantar Kajian Gender (Jakarta: Pusat Studi Wanita (PSW) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2003), h. 53-54.

[21] Djunaidatul Munawaroh, “Pengantar Kajian Gender,” dalam dalam Tim Penulis Pusat Studi Wanita (PSW) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Pengantar Kajian Gender (Jakarta: Pusat Studi Wanita (PSW) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2003), h. 162-163.

[22] Djunaidatul Munawaroh, “Pengantar Kajian Gender,” h.164

[23] Djunaidatul Munawaroh, “Pengantar Kajian Gender,” h. 166.

[24] Hamka,” artikel diakses pada tanggal 1 November 2007 dari http://id.wikipedia.org/wiki/Haji_Abdul_Malik_Karim_Amrullah

[25] Hamka,” dalam Ensiklopedi Islam, vol. II (Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve, 1994), h. 76-77.

[26] “Wisdom of Islam.” Artikel diakses pada tanggal 1 November 2007 dari http://www.smaislamalazhar4-bks.sch.id/wisdom_news_detail.php?id=3

[27] “Buya HAMKA; Komitmen Menegakkan Risalah Kebenaran,” artkel diakses pada tanggal 1 November 2007 dari http://www.cmm.or.id/cmm-ind_more.php?id=A33_0_3_0_M

[28] Islah Gusmian, Khazanah Tafsir Indonesia; Dari Hermeneutika Hingga Ideologi (Jakarta: Teraju, 2003), h. 65.

[29] “Haluan Tafsir,” dalam Prof. Dr. Hamka, Tafsir al-Azhar, vol. I (Jakarta: Pustaka Panjimas, 1983), h. 40-42.

[30] Howard M. Federspiel, Kajian al-Quran di Indonesia; Dari Mahmud Yunus Hingga Quraish Shihab, Alih bahasa: Drs. Tajul Arifin, M.A. (Bandung: Mizan, 1996), h. 48.

[31] “Mengapa Dinamai “Tafsir al-Azhar,” dalam Prof. Dr. Hamka, Tafsir al-Azhar, vol. I (Jakarta: Pustaka Panjimas, 1983), h. 48.

[32] Menurut al-Farmawy metode al-tafsîr al-tahlîly adalah tafsir yang mengkaji ayat atau surat mushaf sesuai dengan keahlian dan kecenderungan mufasir yang menafsirkan ayat-ayat tersebut; dengan menjelaskan pengertian dan kandungan lafaz-lafaznya, hubungan ayat-ayatnya, hubungan surat-suratnya, asbâb al-nuzûl-nya, hadis-hadis yang berhubungan dengannya, pendapat-pendapat para mufasir terdahulu yang diwarnai oleh latar belakang pendidikan dan keahliannya. Lihat Abd al-Hayy al-Farmawy, Metode TafsirMaudhu’iy; suatu Pengantar, Alih bahasa: Suryan A. Jamrah (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1996), h. 12, lihat juga Supiana dan M. Karman, Ulumul Quran (Bandung: Pustaka Islamika, 2002), h. 303. Sedangkan menurut Baqir al-Shadr, sebagaimana dikutip Quraish Shihab, metode tafsir seperti ini disebut metode tajzi’iy, yaitu suatu metode tafsir yang mufasirnya berusaha menjelaskan kandungan ayat-ayat al-Quran dari berbagai seginya dengan memperhatikan runtutan ayat-ayat al-Quran sebagaimana tercantum dalam urutan mushaf. Lihat Quraish Shihab, Membumikan al-Quran (Bandung: Mizan 1994) Cet.ke-VI, h. 86.

[33] Prof. Dr. Hamka, Tafsir al-Azhar, vol. IV, h. 217-218.

[34] Prof. Dr. Hamka, Tafsir al-Azhar, vol. IV, h. 218.

[35] Prof. Dr. Hamka, Tafsir al-Azhar, vol. IV, h. 218

[36] Prof. Dr. Hamka, Tafsir al-Azhar, vol. IV, h. 219.

[37] Prof. Dr. Hamka, Tafsir al-Azhar, vol. IV, h. 221.

[38] Prof. Dr. Hamka, Tafsir al-Azhar, vol. IV, h. 221

[39] Prof. Dr. Hamka, Tafsir al-Azhar, vol. IV, h. 222.

[40] Prof. Dr. Hamka, Tafsir al-Azhar, vol. IV, h. 223.

About these ads

Aksi

Information

One response

31 01 2009
his idea is in his novels (HAMKA) « jadi chekgu

[…] can read this here but sorry it is in Bahasa Indonesia (i know it is difficult to understand but …) read the […]

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: